|
Indonesia Minta Korea Revisi Harga LNG Tangguh
Selasa, 06 Maret 2007 | 03:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah Indonesia meminta pemerintah Korea mau menaikkan harga (maksimum) liquefied natural gas (LNG).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan saat ini sedang dilakukan pembicaraan untuk meningkatkan harga tersebut.
Berdasarkan kesepakatan jual-beli (sales purchase agreement) dengan Posco Korea, Indonesia menjual 0,55 juta ton per tahun selama 20 tahun dengan harga rata-rata US$ 3,36 per juta mmBtu. Sedangkan LNG yang dijual ke SK Power Korea 0,55 juta ton per tahun selama 20 tahun dengan harga rata-rata US$ 3,5 per mmBtu.
Harga itu lebih rendah daripada harga LNG yang dijual ke West Coast-Amerika Serikat, yaitu rata-rata US$ 5,94 per mmBtu untuk 3,7 juta ton per tahun selama 20 tahun.
Proyek Tangguh di Teluk Bintuni, Irian Jaya bagian barat, senilai US$ 6,5 miliar dimiliki konsorsium perusahaan multinasional asal Inggris, BP. Selain BP, yang menguasai 37,16 persen, proyek ini dimiliki CNOOC 16,99 persen dan MI Berau BV 16,3 persen. Sisanya dikuasai Nippon Oil Exploration Ltd., KG Berau/KG Wiriagar, dan LNG Japan Corporation. Total cadangan di Tangguh mencapai 14,4 triliun kaki kubik (terbukti) dan cadangan belum terbukti 23,7 triliun kaki kubik.
Kegiatan proyek ini mengembangkan lapangan untuk produksi gas dan pembangunan dua train kilang LNG dengan kapasitas produksi 7,6 juta ton per tahun. Sampai Februari 2007, realisasi pelaksanaan proyek Tangguh telah mencapai 70 persen dari rencana 63,4 persen. Sedangkan dua train dalam proses penyelesaian akhir.
Proyek ini juga masih menunggu kepastian pinjaman dana dari lembaga perbankan dan keuangan internasional Cina sebesar US$ 884 juta, yang diperkirakan akan mendapat persetujuan pada April 2007.
Soal ketersediaan pasokan gas, Purnomo mengungkapkan kebutuhan gas di dalam negeri belum bisa terpenuhi. Pasalnya, dari kebutuhan gas 8,7 miliar kaki kubik per hari (billion standard cubic feet per day), yang terpenuhi 8,4 miliar kaki kubik, sehingga masih ada kekurangan 0,3 miliar kaki kubik per hari.
"Daerah-daerah yang mengalami kekurangan adalah Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Sumatera bagian utara," kata Purnomo dalam rapat kerja dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (5/3).
Departemen Energi, dia menambahkan, tahun ini mentargetkan produksi gas naik menjadi 8,64 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day) dari tahun lalu sebesar 8,12 juta kaki kubik (status Januari-November 2006).
Anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat, James Patrice Morin, menyesalkan tindakan pemerintah yang mengekspor gas ke luar negeri, sementara kebutuhan dalam negeri meningkat.
"Kebutuhan gas tersendat-sendat, tapi kenapa masih menjajakan gas ke luar negeri," katanya.
Menurut dia, industri-industri di dalam negeri saat ini kekurangan pasokan gas. Bahkan pabrik pupuk ASEAN Aceh Fertilizer sama sekali berhenti produksi karena tidak mendapat gas.
l NIEKE INDRIETTA
INDEKS BERITA LAINNYA :
|