Ahli Geologi Diminta Mengungkapkan Kebenaran

Rabu, 07 Maret 2007 | 02:03 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kata Pengantar:
Kontroversi seputar kasus lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, sampai hari ini masih terus bergulir. Bahkan ahli-ahli geologi yang seharusnya bisa mengungkapkan fakta yang sebenarnya dari peristiwa ini justru bersilang pendapat. Tempo menggulirkan silang pendapat para ahli itu sejak kemarin.


Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia periode 1973-1975, Koesoemadinata, memahami ada kepentingan nasional dalam penyelenggaraan workshop bertajuk "International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano" di Jakarta pada 20-21 Februari lalu.

"Saya sangat pahami itu. Saya tidak mengatakan ada kepentingan politik dalam penyelenggaraan workshop internasional ini," kata Koesoemadinata dalam surat terbuka via surat elektronik (e-mail)kepada Ikatan Ahli Geologi Indonesia pada 25 Februari lalu.

Tapi, menurut dia, apakah tidak ada cara yang lebih bijaksana, elegan, atau diplomatis dalam mengambil kesimpulan. "Tanpa harus mengorbankan nilai kebenaran dan kaidah ilmiah," ujarnya.

Koesoemadinata memaparkan, dalam workshop itu, para ilmuwan Jepang dengan bijaksana mengemukakan pendapatnya yang tidak mengecewakan tuan rumah, tapi juga tidak mengorbankan kebenaran ilmiah. Profesor Jim Mori dari Institusi Riset Tindakan Pencegahan Bencana Universitas Kyoto, misalnya, memperlihatkan secara tegas adanya hubungan antara gempa bumi dan aktivitas gunung api lumpur seperti gempa di Aceh yang menyebabkan gunung api lumpur di Pulau Andaman.

Namun, Mori juga menampilkan slide bahwa lumpur Lapindo terlalu jauh dari episentrum gempa di Yogyakarta untuk dapat menimbulkan aktivitas gunung api lumpur. Setelah itu muncul berita di koran-koran bahwa Profesor Mori dari Jepang menyatakan tidak ada hubungan antara gempa di Yogyakarta dan semburan lumpur di Sidoarjo.
"Bahwa dia menyangkal pernyataan itu keesokan harinya bisa sangat dipahami. Beliau memang tidak pernah mengatakan lumpur Lapindo disebabkan oleh pengeboran," kata Koesoemadinata. "Tapi, dalam abstrak yang sudah dibagikan, dia menyatakan masalah penyebab lumpur Lapindo itu oleh pengeboran. Ini saja sangat menarik."

Dalam presentasinya di workshop yang juga dihadiri Tempo, Mori memang memaparkan semburan lumpur panas itu bisa saja dipicu oleh gunung lumpur (mud volcano) yang terjadi akibat pengeboran atau oleh gempa bumi di Yogyakarta atau kombinasi keduanya. Namun, dia tidak mempunyai jawaban pasti penyebab semburan lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo. "Maaf, kami tidak punya solusi yang baik," kata Mori.

Ketua IAGI periode 2006-2008 Achmad Lutfi mengatakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia sudah berusaha melihat permasalahan lumpur Lapindo Brantas Inc. dengan seimbang. Pada mulanya, ahli geologi dan perminyakan memang menilai semburan lumpur merupakan undergrown blow out terkait dengan pengeboran. Tapi pada Juni 2006, IAGI melakukan observasi dan menemukan bahwa semburan lumpur yang tidak kunjung berhenti itu adalah mud volcano (akibat gempa).
"Berhubung semburan itu tidak bisa dimatikan, Ikatan Ahli Geologi Indonesia cenderung berpendapat mud volcano lebih realistis," kata Lutfi.

Dalam kesimpulan teknis workshop juga disimpulkan bahwa secara ruang dan waktu terdapat hubungan yang sangat dekat antara gempa Yogyakarta dan semburan lumpur Lapindo karena adanya beberapa bukti, antara lain gempa telah mempengaruhi produktivitas fluida di sumur-sumur di sekitar Banjar Panji-1, seperti Sumur Carat.

l Nieke Indrietta | Rieka Rahadiana

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :