Bulog Kantongi 10 Perusahaan Pemasok Beras

Kamis, 08 Maret 2007 | 01:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Perusahaan Umum Bulog sudah mengantongi sepuluh perusahaan calon pemasok beras impor sebanyak 200 ribu ton pada tahun ini. Direktur Operasional Bambang Budi Prasetyo mengatakan kesepuluh perusahaan itu sudah mengantongi surat penunjukan importir tertentu.

Perusahaan itu belum resmi menjadi mitra Bulog sebelum mendapatkan kepastian supplier dan kesesuaian harga. Perusahaan-perusahaan itu memenuhi persyaratan, dari 14 perusahaan yang mengajukan diri. "Empat perusahaan lainnya masih dalam tahap evaluasi," kata Bambang di kantornya di Jakarta, kemarin.

Calon-calon pemasok tadi terdiri atas perusahaan swasta dan badan usaha milik daerah (lihat tabel). Mereka ditargetkan memasok beras paling lambat 31 Maret 2007. Rencananya, beras impor akan masuk, antara lain, lewat pelabuhan Medan, Batam, Jakarta, Manado, Makassar, dan Pontianak.

Bulog sedang menyiapkan penunjukan langsung pemasok beras dengan alasan waktu yang mendesak. "Dan 200 ribu ton (itu) memang hanya untuk operasi pasar," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dua hari lalu.
Mekanisme itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 208/M-DAG/2/2007 pada 28 Februari 2007 tentang perubahan surat sebelumnya bernomor 138/M-DAG/2/2007. Impor beras dilakukan dengan tiga cara: tender (100 ribu ton), antarpemerintah (200 ton), dan penunjukan langsung (200 ribu ton).

"Impor 200 ribu ton dapat dikerjasamakan dengan pihak lain atau swasta dengan waktu kedatangan paling lambat 31 Maret 2007, sedangkan sisa beras 300 ribu ton paling lambat datang 15 Mei 2007," begitu isi surat keputusan. Sebelumnya, Mari menugasi Bulog mengimpor beras 500 ribu ton hingga 30 April 2007.

Menurut Bambang, beras impor 200 ribu ton itu terdiri atas kualitas broken 5 persen setara dengan beras IR 64 kualitas 1, yang akan dijual Rp 4.300 per kilogram, dan beras kualitas broken 10 persen (Rp 4.000 per kilogram). "Perimbangan jumlah tiap jenis tak ditentukan."

Tiap perusahaan mendapatkan jatah impor bervariasi, 5.000 hingga 20 ribu ton. Bulog pun tak menentukan negara asal beras impor itu. Bambang memastikan beras impor dengan penunjukan langsung bukan untuk operasi pasar, melainkan untuk menurunkan harga beras premium. "Operasi pasar menggunakan beras kualitas broken 15 persen," ucapnya.

Budi Saiful Haris

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :