Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kadar Sulfur Solar Wajib Diturunkan
Jum'at, 09 Maret 2007 | 02:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah akan mewajibkan produsen solar untuk menurunkan kadar sulfur dari 5000 parts per million (ppm) menjadi 3500 ppm.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Erie Sudarmo mengatakan peraturan ini berlaku mulai 16 Maret terhadap solar yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). "Kami tidak bisa lagi dengan sulfur di atas 3500 ppm," katanya di Jakarta, Kamis (8/3).

Erie menjelaskan, sebenarnya penetapan kadar sulfur dalam solar maksimum 3500 ppm ini dilaksanakan tahun lalu. Namun, para pelaku pada saat itu mengaku belum siap. Maka diberi waktu selama satu tahun dari 16 Maret 2006-16 Maret 2007.

Erie memperkirakan industri akan terkena dampak bila kadar sulfur solar lebih rendah dari 5000-3500 sulfur, karena harganya labih mahal, bisa mencapai US$ 4 -5 per barel. Namun pemerintah juga tidak bisa mensubsidi karena akan menjadi beban.

Sejauh ini para produsen BBM yang beroperasi di Indonesia seperti Pertamina, Shell, maupun Petronas, telah menyatakan kesanggupannya untuk memproduksi solar berkadar sulfur rendah. Industri manufaktur mobil yang tergabung dalam asosiasi seperti Gaikindo dan sebagainya telah membuat mobil dengan standar Euro 2, yang tidak bisa menerima kadar sulfur di atas 3500 ppm. "Kami sudah bicara pada stakeholder, mereka tidak keberatan," katanya.

Untuk solar industri, kata Erie, peraturan ini baru akan diberlakukan tahun depan atau mulai 16 Maret 2008. “Penundaan itu sudah diusulkan ke Dirjen dan juga ke Menteri ESDM, tapi kalau ditolak mulai 16 Maret 2007 pelaku industri tetap wajib menggunakan solar sulfur rendah,” paparnya.

Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) Suroso mengaku siap atas kewajiban yang akan diberlakukan pemerintah. "Pertamina siap, kami usahakan di semua kilang," katanya. Bila bahan bakar minyak yang diimpor kadar sulfur masih tinggi, akan dicampur dengan punya produksi Pertamina. Pencampuran perbandingannya tergantung dari jenis solar impor itu. "Kalau dapat 5000, kami punya di Dumai itu 600, tinggal dicampur saja," katanya.

Selain itu, Pertamina meminta kepada pemerintah untuk memberi tambahan subsidi kalau pemerintah tidak berniat menaikkan harga produk di tingkat SPBU. Alasannya, memproduksi solar dengan kandungan sulfur rendah butuh biaya produksi tambahan. “Kami akan minta tambahan subsidi, karena jenis solar bersulfur 5.000 ppm dan 3.000 ppm biaya produksinya lebih mahal yang 3.000 ppm, bagian pemasaran sedang menghitungnya,” ujarnya.

NIEKE INDRIETTA


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Persediaan Solar di Rumah Sakit Sumber Waras Menipis
Menteri ESDM : Industri Oplos Solar - Minyak Tanah
Kenaikan Solar Industri Beratkan Pabrik di Banten
Seorang Anggota DPRD Diduga Timbun Solar
Kenaikan Harga Solar Buat Industri Besar
Solar Kurang Puluhan Ton Ikan di Kupang Membusuk
Solar Langka, Nelayan Teluk Lampung Berhenti Melaut
Solar di Bangka Belitung Rp 5.500 perliter
Kapal Mau Selundupkan Solar ke Filipina Ditangkap
Tanker Bawa Solar Illegal 1.000 Ton Ditangkap
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk95116 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Pasangan Karsa Unggul di Jombang
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki
Dada Janji Bangun Stadion Persib
Pasangan Calon Bupati dari PDI Perjuangan Unggul di Jombang

<< March,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data