Paskah: Kerugian Akibat Lumpur Lapindo Lebih Dari Rp 7,6 Triliun
Selasa, 13 Maret 2007 | 13:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta memperkirakan kerugian ekonomi akibat lumpur panas Lapindo Brantas Inc. di Sidoarjo lebih dari nilai Rp 7,6 triliun.
Menurut Paskah, angka Rp 7,6 triliun yang disampaikan Departemen Pekerjaan Umum beberapa waktu lalu belum mencakup seluruh kerusakan akibat dari lumpur Lapindo itu. Nilai itu baru merupakan angka kerusakan infrastruktur yang mendukung ekonomi Sidoarjo.
"Kalau kerugian ekonomi, ini lebih luas karena menyangkut semua aspek yang mandek atau dirugikan akibat lumpur panas itu," tuturnya seusai rapat koordinasi dengan Menteri Perekonomian di Departemen Keuangan, Selasa (13/3).
Kerugian ekonomi, dia melanjutkan, di antaranya menyangkut kerugian pabrik-pabrik yang ada di Sidoarjo. Gangguan pengiriman barang akibat jalan
yang rusak juga menjadi salah satu parameter untuk mengukur kerugian negara. "Nanti setelah diketahui angkanya, akan dibicarakan tindakan ke depan seperti apa," kata Paskah.
Untuk menalangi perbaikan sarana infrastruktur, menurut Paskah, besaran dana akan dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dilihat dari kemampuan anggaran, biaya rehabilitas infrastruktur senilai Rp 7,6 triliun akan dilakukan secara multi years. "Jadi tidak mungkin tahun ini akan dibiayai semuanya," kata dia.
Pemerintah akan mengumumkan nilai kerugian akibat semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc. di Sidoarjo. Menurut Paskah, kajian jumlah kerugian itu akan diumumkan April.
Paskah menjelaskan, kerugian itu dihitung untuk mengetahui dampak pertumbuhan ekonomi wilayah di sekitar lumpur Lapindo. Selan itu, juga untuk mengukur besarnya produk domestik regional bruto atau PDRB.
"Saat ini baru diketahui nilai kerusakan infrastruktur, seperti jalan tol, jembatan dan lain-lain," kata Paskah
ANTON APRIANTO
Topik :




Komentar Anda :