BI Siap Bantu Kekurangan Dana

Selasa, 20 Maret 2007 | 00:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Rencana Bank Indonesia mengubah suku bunga patokan dari bulanan (BI Rate) menjadi harian (Overninght Rate) bertujuan untuk mengatasi ketidaksesuaian (mismatching) pembiayaan jangka menengah perbankan.

Dengan kebijakan baru ini, papar Direktur Perencanaan Strategis dan Humas Bank Indonesia Budi Mulya, perbankan tidak perlu khawatir lagi akan kemungkinan kesulitan likuiditas. Sebab, bank sentral siap menyuntik bank jika kekurangan dana. Sebaliknya, jika bank mengalami kelebihan likuiditas, BI akan membantu dengan menempatkannya, seperti di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau surat berharga lainnya.

"Jadi, kami akan siap terus berada di pasar," tutur Budi di Jakarta.

Menurut dia, selama ini selalu terjadi kekhawatiran di kalangan perbankan mengenai likuiditas di pasar. Pasalnya, pendanaan yang ada di perbankan lebih banyak bersifat jangka pendek sementara pembiayaan yang dibutuhkan bersifat jangka panjang. Akibatnya, bank kesulitan apabila sewaktu-waktu deposan menarik simpanannya. "Ini yang disebut risiko mismatching," katanya.

Tambahan lagi, ujar dia, dari seluruh bank sentral di seluruh dunia saat ini, hanya Bank Indonesia yang masih menggunakan sinyal suku bunga bulanan. Dengan pengendalian moneter secara overnight, menurut Budi, tingkat pengawasan bank sentral terhadap bank menjadi lebih baik. Sebab, Bank Indonesia dapat melihat setiap harinya bank mana saja yang paling sering mengalami kesulitan likuiditas. "Kalau setiap hari minta ke BI, berarti tiap hari kekurangan likuiditas. Pasti ada kesalahan," papar Budi.

Dia menambahkan, pengumuman suku bunga harian akan ditetapkan rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap bulan--seperti penentuan BI Rate selama ini. "Kami akan tentukan rate yang paling rendah yang akan dijadikan acuan bank," katanya.

Namun, dia melanjutkan, perubahan suku bunga patokan dari bulanan (BI Rate) menjadi harian (Overninght Rate), masih akan menunggu kesiapan dari pasar uang antar bank.
Analis perbankan Mirza Adityaswara menilai, kebijakan moneter tersebut, lebih ditujukan pada upaya bank sentral untuk mengurangi risiko yang sewaktu-waktu bisa dialami bank akibat banyaknya bank yang masih menggunakan likuiditas pasar overnight untuk pembiayaan kredit.

"Kalau sewaktu-waktu overnight naik, nanti kan, bank-bank sendiri yang akan kelabakan, "ujarnya.

Menurut dia, penerapan suku bunga overnight sebagai patokan memiliki kesulitan lantaran BI Rate saat ini, 9 persen terpaut jauh dengan overnight rate yang hanya 4 persen. "Bagaimana caranya BI menaikkan overnight rate tanpa harus menaikkan BI Rate? Padahal kan, maunya overnight rate-nya naik tapi BI Rate- nya turun. Kenyataanya, jika overnight rate naik pasti akan mendorong BI Rate juga naik," paparnya.

Mirza mengatakan, saat yang paling tepat bagi bank sentral untuk menerapkan kebijakan overnight rate adalah saat inflasi dan BI Rate turun, rupiah stabil, tapi likuiditas di pasar overnight meningkat. "Waktunya ya, saat pasar uang dan pasar valas tidak bergejolak. Memang agak sulit mengatakan kapan tepatnya," ujarnya.

SURYANI IKA SARI

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :