Pengembangan Bahan Bakar Nabati Masih Menguntungkan

Jum'at, 30 Maret 2007 | 09:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisaris PT Pertamina (Persero) Maizar Rahman optimis pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia tetap cerah.

Alasannya harga minyak dunia masih cenderung naik karena faktor geopolitik dari negara-negara produsen minyak di Timur Tengah. "Orang-orang akan mengurangi pemakaian minyak dan beralih ke bahan bakar nabati," katanya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengurangi kandungan nabati pada bahan bakar nabati berjenis biodiesel dari 5 persen menjadi 2,5 persen. Pengurangan kandungan nabati pada biodiesel yang dipasarkan dengan merk dagang Biosolar ini terpaksa dilakukan karena harga bahan baku nabati yaitu FAME (Fatty Accid Methyl Ester) melonjak. Harga FAME naik mengikuti harga Mid Oil Platt's Singapore(MOPS) solar.

Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak Pertamina Djaelani Sutomo sebelumnya mengatakan bahwa harga FAME mendekati Rp 5.800 per liter. Pertamina saat ini sudah mengurangi kadar FAME hingga 2,5 persen.

Menurut Djaelani, kenaikan harga FAME itu bahkan sudah melampaui harga solar transportasi bersubsidi. Harga solar bersubsidi saat ini yaitu Rp 4.300 per liter. Meskipun demikian, Pertamina tetap mendistribusikan biosolar ke 197 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta dan 12 SPBU di Surabaya.

Pertamina mengalami kerugian sekitar Rp 20 per liternya. Alasannya meski FAME melonjak, Pertamina tetap menjual biosolar dengan harga yang sama dengan solar transportasi bersubsidi, yaitu sekitar Rp 4.300 per liter.

Nieke Indrietta






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: