Waspadai Tarif Seluler Murah
Selasa, 10 April 2007 | 00:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Indonesia Telecommunication User Group (IDTUG) mengingatkan pengguna telepon seluler agar berhati-hati dalam memilih produk telepon seluler. Sebab persaingan antaroperator telekomunikasi cenderung mengarah ke penurunan tarif, tapi pelayanannnya dikhawatirkan tidak memadai.
Sekretaris Jenderal IDTUG Muhammad Jumadi mengatakan, ada juga operator yang menerapkan tarif per detik yang sepertinya murah, tapi bila dihitung per menit ternyata lebih mahal dari tarif yang sebelumnya. IDTUG sangat mendukung tarif yang lebih murah, tapi bila pelayanannya tidak bagus berarti sama saja menipu.
Persaingan tarif, kata Jumadi, terasa semakin kompetitif saat hadirnya PT Hutchison CP Telecom Indonesia sebagai operator baru. Apalagi perusahaan asal Hong Kong ini menerapkan tarif yang kompetitif. "Jadi persaingan lebih mengarah ke tarif, bukan pelayanan," kata dia di Jakarta pekan kemarin.
Seperti diberitakan, Hutchison baru-baru ini melundurkan layanan selulernya secara komersial dengan tarif Rp 150 per menit. Chief Executive Officer Hutchison Telecommunication International Limited, Dennis Lui, mengatakan Hutchinson akan hadir di 67 kota di Jawa dan Bali pada Juni 2007. Pada Agustus 2007 layanan Hutch akan ada di Sumatera. Sedangkan Kalimantan dan Sulawesi pada akhir 2008.
Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Johnny Swandi Sjam tidak menampik kemungkinan terjadinya perang tarif. Masuknya operator baru membuat persaingan semakin kompetitif. "Tapi kan akhirnya konsumen yang diuntungkan," ujarnya. Namun penurunan tarif itu sebenarnya hanya strategi pemasaran untuk menjaring pelanggan.
Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), Hasnul Suhaimi, juga memandang persaingan tarif sebagai fenomena biasa. "Bahkan ke depan, penurunan tarif bukan lagi sebuah kejutan," ujarnya. XL sendiri mengeluarkan tarif XL bebas Rp 25 per detik. Jika dimungkinkan, tarif per detik ini bisa menjadi tarif tetap karena mendapat respon yang cukup bagus dari pelanggan.
Menurut anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Hery Nugroho, penurunan tarif itu boleh saja asalkan tidak lebih rendah dari biaya interkoneksi untuk panggilan antar operator dan biaya terminasi untuk panggilan sesama operator. Biaya terminasi adalah biaya yang dikenakan untuk panggilan yang masuk ke jaringan operator, baik oleh sesama atau antaroperator.
Biaya interkoneksi saat ini Rp 100 per menit. Namun biaya ini akan berubah karena akan ada perubahan biaya interkoneksi pada Juni depan. Sedang biaya terminasi mencapai Rp 73 per menit. Hery berharap, operator seluler mematuhi pemberlakuan biaya terminasi walau untuk percakapan sesama operator.
Wakil Direktur Utama Bidang Komersial PT Bakrie Telecom Tbk, Erik Meijer, mengaku tidak khawatirk dengan strategi sejumlah operator telekomunikasi berbasis Global System for Mobile Communications (GSM) yang tengah bersaing menjaring pelanggan dengan menurunkan tarif .
Menurut Erik, mustahil bagi operator GSM memberikan harga jauh di bawah operator CDMA. "layanan CDMA jauh lebih efisien," ujar Erick. Bakrie Telecom adalah salah satu operator telekomunikasi berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) dengan produk Esia.
Eko Nopiansyah, Nur Rochmi, riky ferdianto




Komentar Anda :