Kebijakan Tidak Menaikkan Harga Minyak Berisiko Tinggi
Rabu, 18 April 2007 | 15:23 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mengambil risiko tinggi dengan kebijakan tidak akan menaikkan harga minyak hingga 2009. Sebab, dalam kurun waktu lima tahun ke depan harga minyak dunia diperkirakan hingga US$ 100 per barel.
"Pemerintah harus menaikkan harga minyak atau defisit anggaran akan sangat tinggi," kata Direktur Program Strategic Asia - United Nations Prabowo dalam jumpa pers Economic and Social Survey of Asia and the Pacific 2007 di Jakarta, Rabu (18/4).
Menurut dia, kebijakan tidak menaikkan harga minyak bukan kebijakan yang pro kemiskinan. Apalagi, kata dia, Indonesia dikategorikan boros dalam penggunaan energi--sekitar 25-30 persen dari produk domestik bruto dialokasikan untuk energi. Padahal, dia melanjutkan, di negara-negara Eropa alokasikan untuk energi tidak lebih dari 13 persen PDB. "Kalau kebijakan tidak menaikkan harga minyak dikatakan untuk melindungi masyarakat miskin, ya tidak juga," katanya.
Prabowo menuturkan, saat harga minyak dunia berada di kisaran US$ 60 per barel, seperti saat ini, sebaiknya pemerintah melepas program subsidi. Sehingga, ketika terjadi kenaikan harga minyak dunia, kenaikan yang dirasakan masyarakat tidak secara drastis.
KURNIASIH BUDI




Komentar Anda :