BI Diminta Bebaskan Penguatan Rupiah

Jum'at, 20 April 2007 | 09:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat pasar uang, Reza Wibawa, meminta Bank Indonesia tidak terlalu lama menahan penguatan rupiah agar tidak terjadi kenaikan kurs rupiah yang tajam secara mendadak.

"Kalau rupiah naik tajam secara mendadak, dapat membahayakan industri dalam negeri di pasar internasional. Kasihan eksportir kita," kata Reza kepada Tempo hari ini.

Reza mengatakan seluruh mata uang dunia sekarang mengalami penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Hanya rupiah yang penguatannya tidak signifikan karena ditahan Bank Indonesia.

Reza memprediksikan Bank Indonesia akan kebanjiran dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan ini. Hal itu dikarenakan surat utang negara yang akan dilelang pada 24 April nanti sebesar 40-45 persennya diminati investor asing.

Selain itu, jika pendapatan dari peluncuran surat perbendaharaan negara (SPN) memenuhi target sebesar Rp 3-4 triliun, juga akan semakin menguatkan posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kemungkinan penguatan rupiah juga didukung isu di luar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, berencana menurunkan suku bunga. Sementara, Bank Sentral Jepang dan Inggris jusru akan menaikkan tingkat suku bunga. "Ini akan membuat dolar semakin lemah, jadi BI harus membiarkan rupiah menguat dan jangan ditahan," ujarnya.

Eko Nopiansyah






Komentar Anda

Kirim