Pengguna Seluler Harus Kritis Terhadap Iklan Operator
Jum'at, 20 April 2007 | 09:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi meminta pengguna telepon seluler bersikap kritis terhadap iklan operator telekomunikasi, terutama yang berkaitan dengan masalah tarif.
Juru Bicara Ditjen Postel, Gatot S. Dewa Broto, mengatakan para penyelenggara telekomunikasi bergerak (seluler) mulai terlihat akan melakukan perang promosi tarif yang cenderung saling menjatuhkan, sehingga dikhawatirkan dapat merugikan pelanggan.
"Promosi yang dilakukan operator seakan-akan terlalu menjanjikan tarif seluler yang murah," kata Gatot dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta hari ini.
Ditjen Postel, lanjut dia, meminta operator telekomunikasi memperhatikan etika berpromosi dengan memberikan data yang benar dan konsisten dalam realisasi layanan. Dengan begitu, operator itu tidak dianggap melakukan pembohongan publik akibat iklan yang dibuat.
Pengguna seluler juga diminta untuk memperhatikan kelengkapan kata, simbol, dan kalimat yang ditonjolkan dalam iklan operator agar dapat mengetahui dengan jelas layanan yang dipromosikan itu. Kalau ternyata ada kejanggalan antara iklan dengan fakta di lapangan, masyarakat sebagai pengguna jasa telekomunikasi bergerak dapat mengadukan kejanggalan itu ke sentra layanan milik operator yang dimaksud atau ke Ditjen Postel dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
Seperti diberitakan sebelumnya, masyarakat mengeluhkan iklan milik PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) dan PT Hutchison CP Telecom Indonesia karena diduga melakukan pembohongan publik.
Iklan XL yang mengubah sistem penghitungan berbasis menit ke detik ternyata membuat tarif yang dikenakan lebih tinggi dari sebelumnya.
Sementara itu, iklan pemberian bonus pulsa sebesar tiga kali lipat jika membeli pulsa isi ulang milik Hutchison dinilai tidak transparan, karena bonus pulsa yang didapat pelanggan hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi antar sesama pelanggan Hutchison dengan produknya yang diberi nama 3 (three).
Ditjen Postel, kata Gatot, sudah membahas masalah kontroversi iklan tarif seluler yang dibuat operator telekomunikasi pada 19 April. Pembahasan ini dilakukan untuk menindaklanjuti banyaknya keluhan masyarakat terhadap tidak konsistennya antara tarif yang diiklankan dengan kondisi yang sesungguhnya. Pembahasan itu dihadiri oleh seluruh operator telekomunikasi kecuali PT Mobile-8 Telecom dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.
Menurut Gatot, pada prinsipnya Ditjen Postel tidak bermaksud mengkebiri kreatifitas, nilai seni, dan daya tarik dari setiap iklan yang dibuat. Tapi, Postel meminta operator menyampaikan secara rinci tentang data tarif yang diiklankan dan kesesuaian dengan kondisi yang sebenarnya.
Eko Nopiansyah




Komentar Anda :