Produsen Minyak Goreng Diminta Jaga Pasokan

Jum'at, 27 April 2007 | 17:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Departemen Perindustrian meminta produsen minyak goreng untuk menjaga pasokan. Sejak dua minggu terakhir minyak goreng curah dan bermerk naik rata-rata 15-20 persen.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, apabila kenaikan harga semakin tajam, pemerintah akan mengambil langkah kebijakan fiskal untuk mengurangi laju ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO).

Penyebab naiknya harga minyak goreng adalah akibat melambungnya harga minyak kelapa sawit mentah di pasar internasional yang dipicu musim kering berkepanjangan tahun lalu. Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah mencapai US$ 600-700 dolar per ton. Padahal, harga tahun lalu sekitar US$ 400-500 per ton. Sehingga harga minyak goreng curah yang sebelumnya di kisaran Rp 5.000-6.000naik menjadi Rp 7.500. Sementara menurut pantauan Tempo, harga minyak goreng bermerk yang rata-rata Rp 7.000 menjadi Rp 8.000-10.000.

Menurut Fahmi, kenaikan harga minyak goreng yang berbarengan dengan harga gandum perlu disikapi dengan serius. "Perlu ada kebijakan jangka pendek untuk antisipasi ini," kata Fahmi di Jakarta seusai pembahasan minyak goreng dengan perwakilan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI), Jumat (27/4).

Untuk memperlancar pasokan minyak goreng, kata dia, langkah jangka pendek yang ditempuh adalah koordinasi dan sinergi antara industri hulu dan hilir. Fahmi pun meminta kepada produsen minyak goreng diminta menjaga pasokan terutama di pulau Jawa, sebagai konsumen terbesar.

Selain itu, Fahmi melanjutkan, pemerintah akan meminta eksportir kelapa sawit juga untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dibandingkan kebutuhan ekspor. "Tapi, bukan berarti ekspor dikurangi," katanya.

YULIAWATI






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: