Pengolah Minyak Goreng Perlu Insentif
Senin, 07 Mei 2007 | 10:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah diminta memberikan insentif bagi pengembangan pabrik minyak goreng. Menurut ekonom Faisal Basri, tujuan insentif itu agar produksi minyak tidak hanya bergantung pada beberapa pelaku produsen. Sebab, ketergantungan itu menjadi penghambat pasokan saat harga kelapa sawit mentah dunia naik dratis.
"Salah satu persoalan minyak goreng adalah minimnya produsen. itu sebabnya, pemerintah perlu beri insentif agar semakin banyak yang terjun di bisnis ini," kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Senin (7/5).
Insentif yang dimaksud, kata dia, adalah kemudahan dalam pembangunan pabrik minyak goreng atau industri hilir. Sehingga pelaku bisnis akan memilih untuk mengolah dari pada menjual dalam bentuk kelapa sawit mentah.
Saat ini, harga minyak goreng curah masih berada di kisaran Rp 7.500-8.000 per kilogram. Minggu ke tiga bulan Mei, Departemen Perindustrian mentargetkan harga minyak goreng curah berada di bawah Rp 7.000. Sementara pada akhir Mei ditargetkan harga menjadi Rp 6.500-6.800. Mekanisme penurunan harga diminta melalui penggelontoran pasokan minimal 100 ribu ton kelapa sawit untuk menstabilkan harga minyak goreng.
Faisal menyoroti ancaman pemerintah yang akan menaikkan pajak ekspor kelapa sawit mentah apabila target harga minyak goreng pada akhir Mei tak tercapai. Menurut dia, pajak ekspor hanya menguntungkan produsen yang menguasai pasokan kelapa sawit mentah.
Ada tiga produsen utama pemasok dan pengolah kelapa sawit mentah yakni PT Musim Mas, Karya Prajona Nelayan (KPN), dan Permata Hijau Sawit (PHS). Ketiganya berlokasi di Sumatera.
Menurut Faisal, tiga produsen utama ini menguasai 60 persen ekspor kelapa sawit mentah Indonesia ke pasar luar. "Mereka menjadi untung besar karena punya kelapa sawit mentah terbanyak, sementara petani dirugikan, mereka akan tekan harga," katanya.
Selain itu, dia melanjutkan, pembatasan ekspor akan menimbulkan penyelundupan. "Seperti obat generik, pemerintah tetapkan harga rendah dan ternyata pasokan di pasar tak ada," katanya.
YULIAWATI
Topik :




Komentar Anda :