Rupiah Semakin Menguat

Senin, 07 Mei 2007 | 11:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rupiah pada perdagangan Senin (7/5) ini menguat menuju di bawah Rp 8.900. Penguatan rupiah seiring faktor eksternal melemahnya mata uang dolar terhadap beberapa mata uang asing. Perburuan aset-aset finansial instrumen dalam negeri menjadi pemicu menguatnya nilai rupiah. Sementara itu, isu reshuffle (perombakan) kabinet dinilai tak signifikan mempengaruhi rupiah.

Menurut analis valuta asing, Farial Anwar, asing sedang ramai memburu aset-aset finansial Indonesia, terutama instrumen saham, obligasi, Sertifikat Bank Indonesia dan juga penjualan aset-aset eks BPPN. “Lihat saja IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mencapai di atas 2.000,” ujar Farial dihubungi saat dihubungi Senin (7/5). Pada perdagangan pagi ini, rupiah berada di kisaran Rp 8.873- Rp 8.890. Rupiah terus menguat dari perdagangan akhir Jumat lalu yang telah menembus Rp 9.000 dan ditutup Rp 8.972.

Isu reshuffle, kata dia, tak terlalu signifikan karena kecenderungan penguatan rupiah sejak awal pekan lalu. “Sebelum muncul nama-nama yang akan direshuffle ataupun datangnya nama baru,” ujarnya. Selain itu, katanya, menteri yang diganti bukan berasal dari tim utama ekonomi, sepert Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN.

Menurut Farial, pada hari ini kemungkinan rupiah daat ditutup di kisaran Rp 8.800- Rp 8.900. “Berada di kisaran itu, dan diharapkan jangan sampai terlalu cepat penguatannya, ditakutkan akan mendatangkan spekulan,” ujarnya. Bila terlalu banyak spekulan yang bermain, ujarnya akan berdampak buruk bagi perekonomian nasional. “Bila terlalu banyak Bank Indonesia akan menyulitkan,” ujarnya.

Fluktuasi rupiah, katanya akan sangat bergantung pada pergerakan indeks saham. “Bergantung indeks saham atau pasar finansial lain, potensinya apabila di sana terus menguat, rupiah akan terangkat,” tutur Farial. Namun, pelemahan rupiah 2-3 minggu lalu, mengalami anomali di saat indeks menguat menuju 2.000.

Jumlah uang yang beredar dalam instrumen finansial tersebut atau biasa disebut hot money, kata Farial, masih di bawah cadangan devisa yang mendekati US$ 80 miliar. “Meskipun ada arus balik terjadi, Bank Indonesia masih bisa mengerem,” katanya. Selain itu, kata Farial terjadi arus balik tak akan bersamaan karena jangka waktu seperti SBI memiliki variasi waktu berbeda.

Yuliawati

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :