Barito Incar Bisnis Pertambangan

Kamis, 10 Mei 2007 | 01:54 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Barito Pacific Timber Tbk., perusahaan kayu terpadu saat ini tengah mengincar bisnis yang berbasis pertambangan resources based.

Presiden Direktur Barito Pacific Timber Antonius Budi Setiawan Hudyana
mengatakan, bisnis berbasis pertambangan dipilih karena memiliki prospek yang bagus untuk jangka panjang.

Menurut dia, bisnis ini memiliki potensi keuntungan dan laba sebelum pendapatan bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) yang tinggi. ”Oleh karena itu kami menginginkan yang berbasis pertambangan,” kata Antonius seusai rapat umum pemegang saham di Gedung Bursa Efek Jakarta kemarin.

Meski melakukan ekspansi usaha, Antonius menegaskan, bisnis kayu tetap akan dipertahankan. Untuk itu, belum ada target spesifik kapan rencana itu akan dilakukan. “Belum tahu. Kalau bisa besok (hari ini) kita melaksanakan kajian akuisisi,” katanya.

Berkaitan masalah dana akuisisi, Antonius menjelaskan akan diambil dari internal perseroan meski kinerja keuangan tahun lalu belum begitu membaik. “Kalau dana tidak ada masalah. Jika kurang, perseroan akan mencari dari sumber lain seperti penawaran umum terbatas (rights issue),” ujarnya.

Kinerja keuangan Barito Pacific Timber pada 2006 lalu memang belum menggembirakan. Tercatat per 31 Desember 2006, penjualan bersih turun 45 persen mencapai Rp 451,03 miliar dari periode sama 2005 sebesar Rp 818,03 miliar. Laba bersihnya, anjlok 98,95 persen dari Rp 686,84 miliar menjadi Rp 7,19 miliar. Namun, rugi usaha tahun lalu turun empat persen menjadi Rp 191,81 miliar dari Rp 199,77 miliar.

Melihat dari kinerja keuangan perseroan yang tidak memungkinkan, Antonius menambahkan, perseroan tidak membagikan dividen tahun buku 2006. "Industri yang kami geluti ini sedang mengalami banyak tantangan. Laba bersih tahun lalu pun diperoleh dari transaksi penyelesaian utang. Produksi kayu menurun drastis," jelasnya.

Saat ini PT Barito hanya memiliki dua pabrik yang beroperasi setelah dua tahun berturut-turut menutup pabriknya. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Ternate dan Mangole, Ambon masing-masing berkapasitas 100 ribu meter kubik per tahun.

Dalam perdagangan kemarin, harga saham Barito Pacific di lantai bursa Jakarta naik 2,81 persen (Rp 20) menjadi Rp 730 per saham. Namun dibanding harga tertinggi tahun ini Rp 930 (23 Februari), berarti saham berkode BRPT ini masih turun 21,51 persen.

Direktur PT Bhakti Securities Budi Ruseno, investor masih menunggu keseriusan manajemen untuk melakukan ekspansi tersebut. “Karena jika segera direalisasikan akan memberi berdampak positif bagi kinerja keuangan perseroan,” ujarnya.

DESY PAKPAHAN I MUCHTAR WIJAYA (PDAT)

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: