Bank Sentral Diminta Antisipasi Penguatan Rupiah
Selasa, 15 Mei 2007 | 08:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank sentral diminta segera mengantisipasi lonjakan penguatan rupiah jika mengarah ke level Rp 9.000 per dolar AS. Saat ini perdagangan rupiah terus menguat di level Rp 8.800 per dolar AS.
"Jika terjadi aksi profit taking yang besar-besaran atau sifatnya masiv di lantai bursa, kemungkinan besar terjadi fluktuasi nilai tukar rupiah yang lebih besar dan Bank Indonesia harus mengantisipasinya," ujar analis pasar uang dari Currency Management Group Farial Anwar pada Tempo, Selasa (15/5) di Jakarta.
Dia menilai, penguatan rupiah belakangan ini terutama disebabkan penguatan di lantai Bursa Efek. Menurut dia, peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan yang selalu menciptakan rekor baru lebih berpengaruh positif pada rupiah, ketimbang ekonomi global seperti penguatan dolar AS misalnya.
Indeks saham yang sudah mencapai titik sangat tinggi di kisaran 2.050 ini, menurut Farial ,sangat rentan akan aksi profit taking dari pelaku pasar. "Walaupun profit taking bukan berarti capital outflow, tapi sedikit banyak pasti akan mengguncang bursa dan menciptakan lonjakan volatilitas nilai tukar rupiah. Ini yang harus diredam Bank Indonesia," katanya.
RR ARIYANI





