|
Modal Masuk Akan Terus Naik
Jum'at, 18 Mei 2007 | 01:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia memperkirakan hingga akhir tahun arus modal asing akan terus masuk ke Indonesia (capital inflow).
Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, sepanjang dana asing itu dimanfaatkan untuk pembangunan, arus modal masih akan terus meningkat.
"Melihat secara keseluruhan, dan kalau kita bisa manfaatkan inflow ini sebaik-baiknya, modal akan terus datang," papar dia di sela acara sosialisasi program peningkatan teknologi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di gedung Bank Indonesia, Jakarta, pekan ini.
Menurut dia, untuk mempertahankan masuknya modal asing itu, kondisi makro ekonomi yang positif belakangan ini patut dimanfaatkan secara optimal. Caranya, dia menyebutkan, bisa dengan menerbitkan saham baru atau melakukan penawaran saham perdana ke publik (IPO). Bentuk lain, kata dia, dengan menambah berbagai instrumen baru di pasar saham atau surat utang. "Ini akan menambah gairah investor masuk ke Indonesia," papar dia.
Dia membenarkan, penempatan dana asing di instrumen keuangan tanah air mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Duit-duit itu, menurut dia, tak melulu dimampirkan di Sertifikat Bank Indonesia. Tapi, investor pun menanamkannya di Surat Utang Negara, obligasi korporasi, maupun saham. "Menurut saya, instrumen keuangan kita sangat menarik di mata investor," tuturnya.
Data Bank Indonesia menyebutkan hingga 10 Mei lalu, jumlah dana asing di SBI mencapai Rp 45,3 triliun. Sedangkan yang ditempatkan di SUN sebesar Rp 77,2 triliun. Hartadi menambahkan, meningkatnya capital inflow ke Indonesia karena investor menilai prospek ekonomi Indonesia terus membaik. Hal ini sudah mulai terlihat dari pertumbuhan ekonomi 5,97 persen pada triwulan pertama tahun ini.
Faktor lain, kata dia, karena stabilnya nilai tukar rupiah, terkendalinya inflasi, dan menariknya tingkat suku bunga di Indonesia. Alhasil, investor bisa mendapatkan gain atau keuntungan yang besar dan investasinya di saham atau surat utang.
Dengan terus masuknya modal asing ke tanah air, Hartadi tidak menampik bakal terdorongnya penguatan rupiah. Sepanjang sepekan ini, rupiah terus mengalami penguatan hingga menyentuh Rp 8.793 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan, Rabu lalu.
Namun, menurut dia, masih terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi kurs rupiah. Dia menyebutkan, pembayaran utang luar negeri dan prospek investasi maupun ekonomi Indonesia. Maksudnya, yang paling penting adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara permintaan dan suplai rupiah maupun dolar. "Ini yang kami monitor setiap hari," katanya.
Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dradjad H. Wibowo mengatakan, lalu lintas modal jangka pendek akan terus mengalir ke Asia dan Indonesia selama imbal hasil (yield) investasi lebih tinggi dari Amerika dan Eropa. Sayangnya, aliran dana yang masuk ke sektor keuangan sudah jauh dari fundamental sektor usaha. "Kita mengalami bubble sektor keuangan yang lebih serius," katanya kepada Tempo pekan ini.
Dia mengingatkan, indikator ekonomi dan pasar keuangan Amerika, terutama inflasi, suku bunga The Fed, pasar barang tahan lama (durables market), kenyamanan konsumer dan pasar rumah Amerika, harus terus diwaspadai.
Menurut dia, perlu juga melihat tren kepercayaan investor Amerikat. "Tujuannya, untuk membaca arah pergerakan dana dari dan ke Amerika," ujarnya.
SURYANI IKA SARI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|