Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tuduhan Subsidi Kertas Indonesia ke Amerika Serikat Dinilai Mengada-Ada
Minggu, 20 Mei 2007 | 17:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Amerika Serikat dituding mengada-ada dalam menuduh adanya praktek anti-subsidi pada produk kertas asal Indonesia.

Sebab, menurut Direktur Pengamanan Perdagangan Departemen Perdagangan Martua Sihombing, sedikitnya harus ada empat alasan yang diajukan Amerika Serikat tidak sesuai dengan yang diatur oleh Badan Perdagangan Internasional tentang syarat minimal yang harus dipenuhi dalam menuduh anti-subsidi (countervailing duty).

“Saya sudah sampaikan ke Direktur Kerja Sama Bilateral I Departemen Perdagangan untuk membicarakan hal ini ke pemerintah Amerika Serikat dalam kunjungannya minggu ini,” ujar Martua.

Seperti diketahui, kertas polos berlapis (coated free sheet paper) asal Indonesia ini dinilai telah menikmati harga subsidi sebesar 21,24 persen dan harga dumping sebesar 15 persen. Sebelumnya, produk kertas bergaris asal Indonesia sudah dikenakan Bea Masuk Anti Dumping sebesar 97,85 persen. Sedangkan Bea Masuk Anti-subsidi untuk produk itu dikenakan sebesar 40,55 persen. Dua eksportir besar kertas bergaris Indonesia yaitu PT Tjiwi Kimia dan Sinar Mas akhirnya memilih mengalihkan ekspornya ke kawasan Asia daripada menanggapi tuduhan AS. (Koran Tempo, 25 November).

Alasan pertama, kata Martua, adalah pangsa pasar yang diserap oleh produk kertas dari Sinar Mas di Amerika yang dituding telah mencapai 4 persen. Ternyata Amerika mendapat angka itu dengan menggunakan perhitungan prediksi pertumbuhan pangsa pasar (market share) yang ke depan bisa melebihi 4 persen. Saat ini pangsa pasar ekspor kertas polos berlapis Indonesia di Amerika sebesar 3,9 persen.

“Tuduhan subsidi ini harus diabaikan, karena sebetulnya market share produk kertas kita di Amerika masih di bawah empat persen. Jadi kelihatan sekali ini (tuduhan) dipaksakan,” katanya.

Alasan kedua adalah mengaitkan perusahaan Sinar Mas sebagai anak perusahaan Asia Pulp and Paper (APP)-yang dituduh Greenpeace melakukan penebangan liar dan perusakan hutan dalam skala besar di Cina. Sedangkan Martua menilai, tudingan atas keterkaitan Sinar Mas dengan APP tidak lagi relevan untuk dipermasalahkan lagi.

Ketiga, adalah hanya ada satu perusahaan yang mengajukan petisi anti-subsidi di AS, yakni New Page, yang hanya menguasai pangsa pasar sebesar 25 persen. Padahal dia harusnya punya dukungan dari produsen-produsen lainnya sehingga mewakili market share 50 persen. Alih-alih mendapat dukungan produsen, New Page malah menggunakan dukungan dari para pekerja,” katanya.

Keempat, menurut Martua, Amerika telah memberlakukan jadwal yang sangat ketat dalam pengisian kuesioner, ditambah item pertanyaannya sangat luas. ?Pertanyaannya-pertanyaan itu tidak ada hubungan dengan tuduhan subsidi, misalnya: penjualan dalam negeri dari produk yang dilarang ekspor. Siapa yang memonitor itu? Bahkan di AS pun mungkin tidak ada data itu,? katanya.

Namun, dengan cara itu, kata dia, Amerika berusaha menekan Indonesia. ”Dengan kita tidak menjawab kuesioner, kita akan dituduh tidak kooperatif dan dapat langsung dikenakan bea masuk anti-subsidi,” kata Martua.

RR Ariyani


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Amerika Tuduh Indonesia Dumping Kertas Polos Berlapis
Indonesia Bakal Gugat Mesir Soal Anti Dumping Ban
Kawat Baja Cina Diduga Barang Selundupan
Indonesia Menangkan Sengketa Melawan Korea di WTO
KADI Temukan Dugaan Dumping Produk Filipina

Website

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk100274 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< May,2007>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data