Industri Batu Bara Butuh Investasi Rp 11,7 Triliun
Selasa, 22 Mei 2007 | 15:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pembangunan pabrik pencairan batu bara berkapasitas 13.500 barel per hari, membutuhkan investasi hingga US$ 1,3 miliar per pabrik. Pendanaan yang setara dengan Rp 11,7 triliun, dengan kurs Rp 9.000 per dolar Amerika Serikat, untuk setiap pabrik ini akan dicarikan melalui konsorsium.
Kepala Balitbang Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Nenny Sri Utami mengatakan, hingga 2025 sedikitnya dibutuhkan tujuh pabrik untuk mencapai target pemanfaatan batu bara cair sebanyak dua persen. Hasil produk batu bara yang dicairkan berupa bahan bakar cair pengganti bahan bakar minyak yang akan distandarkan dengan BBM.
"Pemerintah hanya akan memfasilitasi terbentuknya konsorsium, setelah itu pemerintah hanya mengawasi," tutur Nenny dalam acara dialog bisnis Coal Liquefaction, Accelaration of The Construction of Semi-Commercial Plant di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Selasa (22/5).
Dia menambahkan, konsorsium itu business to business yang terdiri dari perusahaan Jepang dan Indonesia. Di antara perusahaan yang akan terlibat, kata dia, adalah PT Adaro Indonesia, PT Jorong Barutama Gestron, PT Berau Coal, PT Bumi Resources, PT DH Power, PT Bayan Resources, PT Ilthabi Bara Utama, PT Rekayasa Industri, PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk., PT Pertamina (Persero), AES Asia & Middle East.
Pabrik pencairan batu bara ini direncanakan akan dibangun mulai 2009. Targetnya, pabrik mulai beroperasi pada 2013. Kemudian kapasitas akan ditingkatkan hingga mencapai tahap komersial sebesar 27.000 barel per hari.
NIEKE INDRIETTA
TOPIK
Komentar Anda
- Web Anda Buruk Sekali
Saya perhatikan web anda ini buruk sekali, artikel tidak lengkap sehingga membuat orang malas membuka web anda perbarui web anda sekarang juga SUCKER
Pengirim : Wawan di Bandung





