Asumsi Makro Ekonomi Dinilai Terlalu Optimistis
Selasa, 22 Mei 2007 | 16:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sejumlah anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat menilai asumsi makro ekonomi 2008 yang direncanakan pemerintah terlalu optimistis. Asumsi itu pun diperkirakan tidak akan terlalu berpengaruh pada kondisi riil, seperti menurunnya jumlah pengangguran dan kemiskinan.
"Target yang tinggi cuma pencitraan pemerintah. Seharusnya, target itu realistis dan wajar. Bukan lagi mengejar pencitraan," ujar Ketua Panitia Anggaran DPR, Emir Moeis, seusai rapat kerja Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Kepala Badan Pusat Statistik dengan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR di gedung parlemen, Jakarta, Selasa (22/5).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan, pertumbuhan ekonomi 2008 diasumsikan 6,6-7 persen, laju tekanan inflasi 6-6,5 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp 9.100-9.400, bunga Sertifikat Bank Indonesia rata-rata tiga bulanan 7,5-8 persen, harga minyak internasional US$ 57-60 per barel, dan produksi minyak Indonesia 1.034-1.040 juta barel per hari.
Dengan asumsi makro tersebut, pemerintah memproyeksikan defisit anggaran tahun depan sebesar 1,6-1,8 persen dari produk domestik bruto, rasio pajak 14,4 persen, belanja modal 2,2 persen, SUN netto 1,6-1,8 persen, dan rasio utang 35,2 persen.
"Asumsi makro yang terlalu optimistis mengakibatkan naiknya defisit anggaran hingga 1,8 persen. Ini berimplikasi pada keharusan menggenjot pendapatan pemerintah dari sektor pajak," papar Emir.
RR ARIYANI
Topik :




Komentar Anda :