Publik Minta Tayangan Gosip dan Mistis Dikurangi

Rabu, 23 Mei 2007 | 01:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Masyarakat meminta stasiun televisi untuk mengurangi program tayangan gosip atau infotainment, sinetron drama dan mistis. Sebaliknya, program anak-anak, berita, dan reality show sosial ditambah.

Permintaan publik ini tampak dalam hasil survei yang dilakukan AGB Nielsen Media Research pada Januari-April 2007. Survei dilakukan di 10 kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta, Denpasar, Palembang, dan Banjarmasin.

Hasil survei itu, menurut Associate Director Marketing dan Client Service AGB Nielsen Media Research, Hellen Katharina, juga sejalan dengan tuntutan masyarakat yang disurvei melalui telepon (Telebus Survey) pada 27 Juni-2 Juli 2006.

"Keinginan masyarakat agar sinetron misteri, infotainment dan berita kriminal dikurangi terlihat dari adanya penurunan jumlah pada program tersebut sementara ada peningkatan pada program anak," papar Hellen di Jakarta, kemarin.

Dari survei terhadap 150 responden hanya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, diperoleh hasil, 46,2 persen meminta tayangan sinetron mistis dikurangi, 40,2 persen meminta program gosip dikurangi. Selanjutnya, 36 persen meminta sinetron drama dikurangi, 32,2 persen meminta berita kriminal dikurangi (lihat tabel).

Hellen menambahkan, penelitian AGB Nielsen juga menunjukkan kalau ada penurunan jam tayang sinetron dari 9 persen menjadi 4 persen dari total 48.769 jam tayang. Penurunan jam tayang ini juga terlihat dari berkurangnya jumlah episode sinetron hingga April lalu, menjadi 155 episode dari sebelumnya 468 episode.

Penurunan juga terjadi pada jumlah episode program infotainment yang sempat mencapai 7.713 episode pada semester pertama tahun lalu.
Pada kuartal pertama lalu, jumlah episode anjlok menjadi 3.390. "Selain episodenya berkurang, pemirsanya juga menurun," tutur Hellen.

Sementara, untuk program hiburan anak, informasi dan berita mengalami kenaikan porsi jam tayang. Hellen menyebutkan, program anak pada semester pertama tahun lalu hanya 10.048 episode. Penelitian AGB Nielsen dalam empat bulan terakhir menunjukkan program anak sudah mencapai 8.913 episode. "Beberapa program yang mencapai top rating, seperti film kartun, edutainment lokal dan variety show," tutur dia.

Terkait dengan iklan, Hellen memaparkan, perolehannya cenderung menyebar mulai pagi hingga prime time. Namun, lonjakan iklan memang masih menumpuk di jam 18.00-19.00 setiap hari. Menurut dia, hal ini mematahkan pandangan bahwa program yang rating-nya tinggi, diikuti banyak iklan yang muncul. "Ternyata, banyak pula program yang rating-nya rendah juga tetap diminati pengiklan," ujarnya.

Kondisi itu, tutur dia, menunjukkan bahwa pengiklan tidak melulu memilih berdasar rating. Tetapi ada faktor lain seperti kesesuaian target produk dan pemirsa yang disasar. "Bukan hanya program dengan peringkat tinggi yang selalu menghidupi stasiun televisi," kata Hellen.

Hasil lain dari survei ini, dia melanjutkan, juga menunjukkan anak-anak usia 5-14 tahun merupakan penonton terbanyak pada pukul 22.00.

Hal ini disayangkan Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Prof. Dr Deddy Mulyana. Dia mengkhawatirkan, tren kebiasaan menonton televisi dari anak-anak. "Mungkin benar waktu prime time adalah waktu berkumpul seluruh keluarga, tetapi berarti di situ terlihat komunikasi keluarga juga tidak bagus. Pengawasan juga masih longgar," ujarnya.

DIAN YULIASTUTI






Komentar Anda

Kirim