BlueScope Steel Investasi US$ 101 Juta

Kamis, 24 Mei 2007 | 01:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
BlueScope Steel Indonesia ekspansi senilai US$101 juta tahun ini. Jumlah yang setara dengan Rp 909 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi baja lapis metal dan warna di Pabrik Cilegon, Banten. Dengan investasi baru, kapasitas produksi Bluescope menjadi 265 ribu ton untuk baja lapis metal dan 160 ribu ton untuk baja lapis warna per tahun.

"Pembangunan fasilitas produksi akan selesai pada 2009," kata Presiden BlueScope Steel Indonesia dan Malaysia, Rob Crawford di Jakarta, kemarin.

Persetujuan investasi baru datang dari BlueScope Steel pusat di Australia, 21 Mei lalu, setelah sebelumnya menunda investasi di tahun 2006.

Menurut Rob, penundaan investasi tahun 2006 tak terkait kondisi internal Indonesia. Pada tahun lalu, BlueScope Steel sedang banyak melakukan investasi di beberapa negara Asia yakni Cina, Thailand, Vietnam, dan India. 'Kami menilai sudah waktunya untuk memenuhi kembali permintaan pasar dalam negeri Indonesia," tutur Rob.

Fasilitas baru mampu memproduksi baja lapis metal sekitar 130 ribu ton (maksimum 170 ribu ton) dan baja lapis warna sekitar 100 ribu ton per tahun. Pembangunan fasilitas baru dengan teknologi pewarnaan langsung (in line painting)

Total produksi BlueScope untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Nilai investasi yang dikeluarkan terbagi dalam periode tiga tahun, dari 2007 hingga 2009 dengan nilai investasi berturut-turut US$ 60 juta, US$ 36 juta, dan tahun terakhir di 2009 mencapai US$ 5 juta. Selain itu, perseroan telah mengeluarkan US$ 12 juta untuk investasi pembangunan fasilitas sebelumnya.

Bahan baku berupa baja canai dingin akan diperoleh dari Krakatau Steel. Baja canai dingin akan diubah BlueScope menjadi baja lapis metal. "Sampai saat ini, Krakatau Steel telah berkomitmen untuk mensuplai bahan baku ke perseroan untuk penuhi produksi 265 ribu ton," ujar Rob. Apabila ada persoalan bahan baku dari Krakatau Steel, perseroan siapkan bahan baku dari perusahaan lokal lain atau impor bahan baku.

Presiden Direktur Steel Coated Indonesia Sulfianda Soeleiman menyebutkan, perseroan memfokuskan produksi baja lapis dengan ukuran ketebalan rendah (0,2-0,4 mm). Produk ini biasa digunakan untuk pembangunan perumahan. Fasilitas sebelumnya tetap difokuskan untuk memproduksi baja lapis dengan ketebalan 0,4-1mm.

YULIAWATI

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :