|
Bank Eksekutif Rugi Rp 13 Miliar
Senin, 28 Mei 2007 | 13:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Eksekutif Internasional Tbk. tidak membagi dividen untuk tahun ini. Penyebabnya menurut Sekretaris Perusahaan Bank Eksekutif Herry Hartawan lantaran bank ini kembali merugi Rp 13 miliar. Sebelumnya pada dua tahun silam, bank ini juga merugi hingga Rp 46 miliar.
Hery mengatakan, kerugian disebabkan tingkat non performing loan (NPL) atau kredit seret yang mencapai 6,19 persen pada akhir tahun lalu. Bank Eksekutif terakhir membagi dividen pada 2004.
Kredit bermasalah bank ini sebagian besar berasal dari nasabah perorangan, terutama pada kredit konsumsi kendaraan bermotor. “Kredit ini menguasai 80 persen total kredit kami,” katanya.
Selain itu, beban operasional perusahaan (BOPO) juga masih cukup tinggi. Akhir tahun lalu, BOPO mencapai 110,5 persen. Jumlahnya terus menanjak hingga 122,8 persen pada akhir Maret 2007. Salah satu penyebabnya adalah pencadangan agunan yang diambil alih (AYDA) sebesar 15 persen dari yang dibukukan. “Ini sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia awal tahun lalu,” katanya.
Hingga akhir Maret lalu, kerugian perusahaan masih sebesar Rp 10 miliar. Tapi Hary mengaku optimistis akan kembali membukukan keuntungan Rp 19 miliar pada akhir tahun ini. Sebab kinerja perusahaan pada triwulan pertama tahun ini terus membaik.
Penyaluran kredit tumbuh 2,65 persen menjadi Rp 884 miliar, dari posisi akhir tahun lalu Rp 861 miliar. Akibatnya, rasio penyaluran kredit terhadap penghimpunan dana (loan to deposite ratio) meningkat dari 74,8 persen pada 2006 menjadi 79,5 pada akhir Maret lalu. Restrukturisasi kredit juga menunjukkan hasil sehingga NPL turun ke posisi 4,81 persen. “Dengan pertumbuhan itu kami yakin bisa membagikan dividen tahun depan,” ujar Hery.
Tentang sumber pendanaan, Hery menegaskan bank yang dikelolanya tetap mengandalkan sumber-sumber organik. Manajemen sama sekali belum berencana untuk mencari sumber dana lain seperti penerbitan issue bond maupun penambahan modal.
Menurut dia, saat ini modal perusahaan mencapai Rp 81,3 miliar, di atas batas minimum modal perbanakan tahun ini sebesar Rp 80 miliar. “Kami akan terus fokus mencapi target Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yakni Rp 100 miliar pada 2010,” katanya.
AGOENG WIJAYA
INDEKS BERITA LAINNYA :
|