close

Asumsi Makro 2008 Versi DPR Disepakati

Selasa, 05 Juni 2007 | 02:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah, Bank Indonesia, dan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati asumsi makroekonomi 2008. Asumsi yang disepakati antara lain pertumbuhan ekonomi tahun depan 6,5-6,9 persen.

Menurut pemimpin rapat, Olly Dondokombey, Dewan menilai batas bawah pertumbuhan 6,5 persen cukup realistis. Alasannya, tingkat konsumsi rumah tangga masih tinggi, investasi belum bergerak, dan adanya pelambatan ekspor seiring dengan melambatnya ekonomi global. Adapun batas atas pertumbuhan 6,9 persen disebabkan masih minimnya pencairan dana dalam daftar isian pelaksanaan anggaran dan infrastruktur yang belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai perubahan asumsi tingkat pertumbuhan itu akan berpengaruh terhadap laju inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta suku bunga SBI tiga bulan. "Untuk menjaga konsistensi kerangka makroekonomi, penurunan tingkat pertumbuhan itu menyebabkan laju inflasi yang bisa ditahan sebesar 5,5-6,5 persen," ujarnya.

Sebab, menurut dia, pertumbuhan ekonomi berasal dari tingginya permintaan, yang akan menyebabkan meningkatnya laju inflasi (demand push inflation). "Jika pertumbuhan didorong terlalu tinggi, trade off inflasi akan terjadi pada kisaran Bank Indonesia sebesar 4-6 persen," katanya.

Ia juga menilai perubahan asumsi pertumbuhan akan berdampak pada asumsi suku bunga SBI 3 persen yang juga akan berubah menjadi 7-8 persen. Patokan sebelumnya 7,5-8 persen.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom menilai tingkat pertumbuhan yang diajukan Dewan masih masuk akal. "Masih berada pada kisaran bank sentral, sebesar 6,2-6,8 persen," katanya.

Untuk itu, bank sentral belum berencana mengubah target pertumbuhan ekonomi seperti yang telah diputuskan Komisi. "Ini angka yang cukup untuk mem-pick up dinamika perekonomian terakhir dan keterbatasan-keterbatasan yang ada," kata Miranda.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan 6,2-6,8 persen dengan medium 6,5 persen. Asumsi itu lebih rendah daripada target pemerintah sebesar 6,6-7 persen. Sementara itu, Komisi memutuskan menetapkan pertumbuhan ekonomi tahun depan 6,5-6,9 persen.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengatakan sebenarnya masih terlalu dini memprediksi angka pertumbuhan ekonomi tahun depan, apalagi berbekal data perekonomian dalam tiga bulan terakhir.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, mengatakan pemerintah harus mengimplementasikan paket kebijakan yang telah dirilis tahun ini. Bila tidak, target dipastikan tidak tercapai.

Implementasi dan realisasi proyek infrastruktur, seperti jalan tol, serta perbaikan iklim investasi juga menjadi salah satu faktor penentu. "Memang masih perlu kerja keras," kata Fauzi.

Ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean, mengatakan hal yang senada. "Tahun depan perekonomian memang akan lebih baik, tapi pencapaian tidak sebesar itu," katanya. Menurut Martin, tahun depan ekonomi akan tumbuh sekitar 6,4 persen.

Apalagi ketidakpastian di sektor ekonomi masih membayangi Indonesia. Untuk itu, kepastian iklim investasi sangat diperlukan. Tentang target inflasi 5,5-6,5 persen, Martin menilainya cukup realistis.

l RR ARIYANI | SURYANI IKA SARI | ANTON APRIANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan