Pabrik Pupuk Diminta Hemat Gas
Selasa, 05 Juni 2007 | 03:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah meminta pabrik pupuk untuk meremajakan mesin produksi dan mengubah bahan bakar sarana pabrik dari gas menjadi batubara.
"Mesin-mesin tua itu harus diperbaharui supaya mereka itu bisa capai efisiensi maksimum," kata Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil kepada rapat pers seusai mengikuti rapat pembahasan industri pupuk di Kantor Wapres, kemarin.
Sofyan mengatakan, usia pabrik pupuk di Indonesia sudah tergolong tua bahkan ada yang mencapai 30 tahun sehingga konsumsi gasnya sangat boros. Pabrik pupuk umumnya mengonsumsi 33-34 Mmbtu untuk memproduksi 1 ton pupuk sementara dengan teknologi baru hanya membutuhkan 26 Mmbtu per ton pupuk.
Umumnya, kata Sofyan, pabrik membeli gas seharga US$ 3,5- US$ 4 per mmbtu. Jika dapat mengganti mesin produksi, kata dia, maka akan ada penghematan biaya produksi sebesar UsS$ 28-US$ 32 setiap membuat satu ton pupuk.
Sofyan mengatakan, penggantian mesin tersebut memerlukan dana sekitar Rp 1 miliar dan memakan waktu 3 tahun. Dana penggantian tersebut, kata dia, bisa diambil dari keuangan internal maupun dari sumber-sumber lain dari luar.
Beberapa pabrik yang mesin produksinya akan diganti adalah Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Sriwidjaya (Pusri) 1 Pusri 2, Pusri 3, Pupuk Kaltim, dan Petrokimia Gresik. Selain mesin produksi, saran pembangkit listrik di pabrik tersebut juga diminta tidak lagi menggunakan bahan bakar gas.
Sofyan mengatakan rapat yang dipimpin Wakil Presiden, Jusuf Kalla ini bertujuan memperlajari jumlah efisiensi gas yang dapat dicapai dari peremajaan mesin tersebut. Rapat tersebut juga diikuti oleh Menteri Pertanian Anton Apriantono dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.
"Kalau mesin bisa diubah maka itu terjadi penghematan luar biasa dari pemanfaatan gas. Sisa gas bisa digunakan untuk kebutuhan lain," ujar Sofyan.
OKTAMANDJAYA WIGUNA




Komentar Anda :