|
Pemerintah Kaji Dua Formula Harga BBM
Kamis, 07 Juni 2007 | 00:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengkaji kemungkinan pelaksanaan dua formula harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Rencananya akan ada formula harga BBM bersubsidi yang berbeda untuk di Indonesia bagian barat dan bagian timur.
Direktur Pembinaan Usaha Hilir DESDM Errie Soedarmo menjelaskan bahwa unsur alpha pada formula harga di Indonesia bagian barat kemungkinan bisa ditekan karena faktor distribusi yang relatif lebih mudah.
Sedangkan, untuk Indonesia bagian timur unsur alpha harus lebih banyak. "Karena untuk di Indonesia timur distribusinya lebih sulit," papar dia di Jakarta, kemarin.
Unsur alpha menggambarkan beban transportasi dan marjin keuntungan. Saat ini, pemerintah menetapkan formula harga BBM bersubsidi mengacu pada harga pasar minyak di Singapura, Mid Oil Platts Singapore (MOPS) ditambah alpha 14,1 persen. PT Pertamina (Persero) merupakan pelaksana distribusi BBM bersubsidi.
Menurut Errie, tingginya biaya distribusi BBM di Indonesia bagian timur karena kesulitan alam, cuaca dan infrastruktur yang terbatas. Di sisi lain, volume BBM yang dipasarkan sedikit, sehingga unsur pengeluaran yang besar menjadi pertimbangan. Adanya penerapan formula harga BBM bersubsidi per daerah ini, kata Errie, diharapkan bisa menekan besaran alpha untuk mengurangi beban subsidi BBM.
Namun, dia melanjutkan, besaran alpha dalam dua formula harga BBM bersubsidi itu belum ditentukan. Alasannya, Departemen Energi masih menunggu kajian dari Badan Pelaksana Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas). "BPH Migas masih menghitung alpha per daerah," katanya.
Dua formula harga BBM bersubsidi ini nantinya akan diajukan dalam pembahasan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2008.
Kepala Divisi BBM Pertamina Djaenali Sutomo mengatakan volume BBM bersubsidi berdasarkan APBN 2007 sebesar 37,9 juta kilo liter. Dengan perincian premium sebesar 17 juta kilo liter, minyak tanah 9,9 juta kilo liter, dan solar 11 juta kilo liter. "Kami belum tahu soal rencana penerapan dua formula harga itu," kata Djaenali saat dihubungi Tempo.
Manajer Hubungan Media dan Komunikasi Shell Indonesia, Fathia Syarif juga menyatakan belum bisa memberikan komentar soal rencana penerapan formula harga BBM. "Kami menunggu regulasinya dulu dan mempelajarinya lebih dulu," kata Fathia kepada Tempo. Dia juga enggan mengungkapkan besarnya biaya investasi yang akan disiapkan Shell. "Kami tidak bisa mengungkapkan itu," ujarnya.
Dalam pertemuannya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa lalu, perwakilan Shell Indonesia menyatakan minatnya untuk meningkatkan investasi di sektor retail dengan menambah jumlah pom bensin serta di sektor hulu produksi minyak dan gas.
Anggota Komisi Energi dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Tjatur Sapto Edy menyatakan setuju adanya kajian formula harga BBM bersubsidi per daerah. "Formula MOPS plus alpha 14,1 persen itu masih terlalu tinggi karena kita tidak tahu asumsi harga per region atau daerah," kata Tjatur.
Nieke Indrietta
INDEKS BERITA LAINNYA :
|