Pemerintah Diminta Manfaatkan Energi Primer

Rabu, 13 Juni 2007 | 00:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah seharusnya memanfaatkan sumber energi dari batu bara, gas dan panas bumi ketimbang memilih energi nuklir. Potensi energi selain nuklir tersebut hingga kini belum dikembangkan secara maksimal.

Pengamat energi Kurtubi mengatakan, sumber energi primer seperti batu bara, gas dan panas bumi masih melimpah di bumi Indonesia. "Semuanya belum dimanfaatkan oleh pemerintah menjadi sumber energi," katanya kepada Tempo, Selasa (12/6), terkait penolakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muria, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (12/6).

Menurut dia, cadangan batu bara Indonesia merupakan terbesar di dunia. "Saat ini pemanfaatannya hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, padahal masih bisa dikembangkan untuk sumber energi lainnya," ujarnya. Nuklir adalah pilihan terakhir jika semua sumber energi primer sudah dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu, cadangan gas dan panas bumi di Indonesia masih besar dan dikembangkan secara maksimal. "Jadi manfaatkan dulu sumber-sumber energi primer tersebut," katanya. Dia menambahkan, cadangan panas bumi Indonesia merupakan terbesar di dunia. "Itu juga belum dikembangkan secara maksimal."

Kurtubi mengatakan, yang harus diperbaiki oleh pemerintah adalah manajemen pengelolaan energi primer. Sebagai contoh, kata dia, saat ini manajemen pengelolaan gas yang ditangai Departemen Energi masih kacau. "Tidak jelas berapa kebutuhan dan pasokan gas di Indonesia, kok ada industri kekurangan gas padahal cadangan gas masih banyak," ujarnya.

Sementara itu, dari Kudus, Jawa Tengah, demonstrasi penolakan pembangunan PLTN Muria ribuan orang melibatkan kalangan pengusaha, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat lingkungan dan tokoh masyarakat. Kalangan pengusaha dan serikat pekerja menilai, pembangunan PLTN akan mengancam kegiatan industri. Akibatnya, para pekerja akan kehilangan pekerjaan.

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Chalid Muhammad menyatakan, untuk memenuhi kebutuhan pembangkit nuklir 1.000 megawatt (MW) dibutuhkan 2,5 juta liter per menit. Jika satu jam, kata dia, dibutuhkan 150 juta liter air laut. "Kalau air laut dieksploitasi untuk itu, trumbu karang dan biota laut hancur," ujaranya, Selasa (12/6)di Kudus.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan presiden pembentukan tim nasional untuk perencanaan PLTN. Dia mengatakan, hingga kini kontrak proyek PLTN belum dilakukan. "Kami menunggu keputusan presiden," katanya setelah bertemu dengan Bupati Jepara, Senin (11/6).

Sesuai rencana, PLTN Muria akan dioperasikan pada 2016-2017. Pembangunan fisik pembangkit, kata Hudi, dilakukan empat tahun sebelumnya. Menurut dia, sudah ada beberapa negara yang mengajukan sebagai peserta tender. Di antaranya, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan Rusia.

Hudi mengatakan, biaya yang dibutuhkan untuk membangun 1.000 MW sebesar US$ 1,5 miliar. “Posisi Batan sebagai promotor dan akan menyiapkan strategi kebijakan nuklir," ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi pembangunan PLTN Muria. "Kami akan lakukan sosialisasi kepada masyarakat," katanya, Selasa (12/6).

ALI NUR YASIN | BANDELAN | NIEKE






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: