Efisiensi Bank Milik Negara Dinilai Rendah

Jum'at, 15 Juni 2007 | 00:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kinerja bank-bank milik negara, dinilai belum optimal meski kondisi makro ekonomi telah membaik. Pernyataan ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, usai meluncurkan program edukasi masyarakat bidang perbankan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta kemarin.

Pernyataan Burhanuddin berbekal pengamatan yang dilakukan Bank Indonesia terhadap bank pelat merah selama beberapa bulan terakhir. Hasilnya, kinerja bank yang termasuk badan usaha milik negara (BUMN) ini, belum optimal. Tapi dia tidak menampik bahwa kinerja bank-bank ini mulai membaik.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, sejak awal tahun hingga April lalu, rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) perbankan terus menurun. BOPO pada Januari lalu, sekitar 149,99 persen. Jumlahnya menurun pada Februari menjadi 114,01 persen. Maret lalu, angkanya menurun lagi menjadi 102,73 persen. Sedangkan April, menjadi 100,03 persen.

Makin tinggi rasio BOPO, mengindikasikan perbankan belum efisien. Selain itu, struktur finansial masih dangkal, kredit bermasalah masih tinggi, ekspansi kredit rendah dan kurang berkembangnya pendapatan bank berbasis fee (fee based income).

Burhanuddin meminta bank milik negara segera memperbaiki kinerja dan performa mereka. Apalagi perbankan berperan penting mendukung perekonomian. "Harus diperbaiki supaya bank semakin kredibel, memiliki daya tahan dan semakin kompetitif. Tentu bank harus efisien," katanya.

Ketua Umum Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) Agus Martowardojo mengakui performa bank pelat merah saat ini masih belum optimal.

BOPO di bank milik pemerintah, lebih tinggi dibanding rata-rata BOPO di industri perbankan yang berkisar 80-90 persen. Sebabnya, menurut Agus, pencadangan penghapusan aktiva produktif yang harus dikeluarkan bank pelat merah, masih tinggi. Selain itu, kredit seret di bank pelat merah juga tergolong besar.

Jika tingkat kredit seret bisa dikendalikan, bank milik negara akan efisien. Sehingga, tidak perlu mencadangkan penghapusan aktiva. "Cadangan kan biaya, (penghapusan) bisa membuat bank-bank lebih efisien," katanya.

Menurut Agus, paket kebijakan ekonomi untuk industri perbankan yang diluncurkan pemerintah beberapa waktu lalu, mendukung kinerja bank pelat merah. Dengan pilihan investasi yang makin beragam, dana masyarakat dapat tersalurkan tanpa melalui bank. "Dengan disintermediasi, masyarakat bisa saling meminjamkan tanpa perlu lewat bank," kata Agus.

Otomatis persaingan antar bank meningkat. Penyaluran dana masyarakat tanpa melalui bank dapat menurunkan margin bank itu. Sehingga mereka harus bersaing meningkatkan transaksi fee based income dan menekan biaya.


SURYANI IKA SARI






Komentar Anda

  • likuiditas bank plat merah
    kelebihan likuiditas bank-bank plat merah sangat tidak efektif dan merugikan,akan lebih baik jika bank-bank plat merah memberikan inovasi yang terbaru buat masyarakat.dikarenakan sekarang sudah banyak sekali fasilitas berinvestasi selain pada bank.misalnya reksadana.kemudahan dalam memperoleh kredit menjadi faktor penting yang mempengaruhi minat masyarakat dalam mengambil kredit.
    Pengirim : atika tiolina di palembang
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: