BI : Data Inflasi Amerika Perkuat Rupiah

Selasa, 19 Juni 2007 | 14:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin mengatakan pengumuman tingkat inflasi Amerika Serikat baru-baru ini yang ternyata lebih rendah dari ekspektasi pasar akan memberikan sentimen positif ke nilai tukar rupiah. Penguatan rupiah diyakini masih akan berlanjut selama tahun ini.

"Persepsi dari investor akan kenaikan Fed Fund Rate (tingkat bunga AS) sudah hilang karena data inflasi Amerika jauh lebih rendah dari perkiraan pasar," kata Aslim di sela-sela Workshop Sukuk di Bank Indonesia Jakarta, Selasa (19/6).

Rendahnya data inflasi Amerika, kata dia, memunculkan terjadinya carry trade mata uang. Investor mencari negara yang memberikan return atau tingkat keuntungan lebih tinggi.

"Misalnya peso (Filipina) ke rupiah, ke dolar Australia. Ini fenomena sekarang. Investor melihat tingkat risiko negara kita cukup rendah," katanya.

Keyakinan akan penguatan rupiah, dia melanjutkan, didukung pula oleh membaiknya indikator makro ekonomi dalam negeri. Sehingga gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam beberapa hari terakhir ini tidak perlu dikhawatirkan.

"Jelas bahwa rupiah masih sangat normal dan cenderung menguat dan stabil. Masih sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia," katanya.

Terhadap pergerakan rupiah, kata Aslim, BI akan melakukan intervensi jika memang sangat diperlukan dan pergerakan rupiah sudah membahayakan perekonomian. "Kami akan lakukan jika sudah perlu. Saya lihat sekarang masih normal," ucapnya.

Pada pembukaan perdagangan hari ini rupiah dibuka melemah di level Rp 8.900 per dolar Amerika dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin Rp 8.890 per dolar Amerika.

SURYANI IKA SARI

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: