PLTN Bukan Solusi Krisis Listrik yang Tepat
Kamis, 21 Juni 2007 | 07:25 WIB
TEMPO Interaktif, Semarang:
Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dinilai bukan solusi yang tepat untuk mengatasi krisis listrik di Indonesia. Sebab, pembangunan reaktor nuklir itu justru memberi lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya. Pemerintah berencana membangun PLTN di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah.
Untuk Indonesia, yang sumber daya alamnya melimpah, menurut guru besar fisika Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Liek Wilarjo, solusi krisis energi lebih baik dengan mengeksplorasi energi terbarukan yang bersumber dari alam, bukan dari nuklir.
Dia membenarkan jika dikatakan bahwa PLTN bisa menjadi alternatif sumber listrik. Tapi bahaya yang ditimbulkan cukup besar karena semua reaktor nuklir menimbulkan radiasi, yang mengganggu kesehatan dan kelangsungan hidup manusia serta mengakibatkan kerusakan alam.
"Belum lagi kalau terjadi kebocoran reaktor," kata dia dalam seminar Pro-Kontra Pembangunan PLTN di Jawa Tengah di Semarang kemarin.
Menurut Liek, tidak ada jaminan tidak akan terjadi kebocoran pada reaktor. Apalagi, kata dia, kawasan Jepara merupakan daerah cincin api yang rawan gempa. Belum lagi limbah nuklir yang harus disimpan sampai 40 tahun, yang akan menimbulkan masalah baru. "Kita harus memilih teknologi yang lebih bertanggung jawab untuk kelangsungan generasi kita yang akan datang,"
Pakar fisika nuklir Iwan Kurniawan, yang juga pernah aktif di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), menegaskan penguasaan teknologi yang masih rendah dan kultur serta budaya bangsa Indonesia yang korup dan kurang berdisiplin menjadikan PLTN sangat berbahaya. "Jika pembangunan konstruksi beton saja sering bermasalah, penanganan lumpur Lapindo tidak bisa, bagaimana dengan pengelolaan reaktor nuklir yang rentan bocor?" tuturnya.
Pakar teknik kimia Universitas Diponegoro, Joko Purwono, mengatakan sekecil apa pun, radiasi dan kebocoran reaktor nuklir pasti ada. Radiasi dan kebocoran yang terbawa ke laut akan berubah menjadi isotop (D2O). Air yang mengandung isotop, jika terpanasi matahari, berubah menjadi awan. Awan akan menjadi hujan. "Isotop itulah yang bisa menyebabkan kanker darah pada makhluk hidup. Bentuknya bisa talesimia atau leukemia," ujarnya.
Namun, Ferhat Aziz dari Batan mengatakan pembangunan PLTN merupakan solusi untuk mengatasi krisis listrik yang dialami Indonesia. PLTN dianggap sebagai sumber listrik yang murah dan terbarukan.
l SOHIRIN





