Defisit Anggaran Melebihi Target
Senin, 25 Juni 2007 | 18:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2007 naik 1,6 persen dibanding target pemerintah sebelumnya, 1,1 persen dari produk domestik bruto.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit APBN-Perubahan sekitar Rp 62 triliun, lebih tinggi dari target semula Rp 40,5 triliun.
Menurut dia, perkiraan realisasi semester I tidak sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah tahun ini. Asumsi inflasi semester pertama tahun ini, adalah sekitar 6,5 persen. Namun ternyata inflasi hanya sekitar 6 persen.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, juga lebih rendah dari target yang ditetapkan. Yaitu Rp 8.970 dari target semula Rp 9.300.
Sedangkan SBI tiga bulan adalah 8 persen, naik dibandingkan target semula 8,5 persen. Harga minyak semester pertama diperkirakan US$ 63 per barel, sedangkan realisasinya adalah U$ 61 per barel. Produksi minyak 950 ribu barel per hari dari target 1 juta barel per hari.
Selain itu, Sri Mulyani juga menyatakan, pertumbuhan ekonomi semester pertama tahun ini masih dibawah angka yang ditargetkan.
"Pertumbuhan ekonomi semester pertama 6 persen dari target 2007 sebesar 6,3 persen," kata Sri Mulyani, usai Sidang Kabinet membahas APBN Perubahan 2007 di Kantor Kepresidenan Jakarta, kemarin.
Berdasarkan pencapaian semester satu, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester kedua tahun ini akan meningkat sekitar 6,6 persen.
Pada semester kedua, inflasi diperkirakan sesuai target APBN 2007 yaitu 6,5 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan antara Rp 9.100-9.200. SBI 3 bulan diperkirakan 8 persen.
Selain itu, pemerintah juga memperkirakan harga minyak sekitar US$ 58-59 per barel. Produksi minyak ditargetkan 950 ribu barel per hari.
Rencananya, pemerintah akan mengajukan APBN-Perubahan kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada awal bulan depan. Dia mengatakan, asumsi makro APBN-Perubahan 2007 tidak banyak berbah.
Pertumbuhan ekonomi tetap ditargetkan 6,3 persen dan inflasi 6,5 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp 9.100 per dolar, SBI 3 bulan 8 persen, dan harga minyak US$ 60 per barel dengan produksi minyak 950 ribu barel per hari.
Dalam APBN-Perubahan 2007, pendapatan dan hibah turun dari Rp 723,1 triliun menjadi Rp 684,5 triliun. Penurunan pendapatan disebabkan penurunan pajak dalam negeri sekitar Rp 19,6 triliun.
Penerimaan pajak penghasilan turun dari Rp 261,7 triliun menjadi Rp 250 triliun. Pajak Pertambahan Nilai turun dari 161 triliun menjadi Rp 152 triliun. Sedangkan cukai turun sekitar Rp 42 triliun.
Pajak perdagangan internasonal justru naik dari Rp 14.9 triliun menjadi Rp 17,1 triliun. Penerimaan Negara Bukan Pajak turun dari Rp 210 triliun menjadi Rp 191,9 triliun. Sedangkan hibah menjadi Rp 2,7 triliun.
SUTARTO





