Mayoritas Bangunan Indonesia Tak Ramah Lingkungan
Selasa, 26 Juni 2007 | 16:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mayoritas bangunan di Indonesia belum mengakomodir konsep pembangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi (konstruksi yang berkelanjutan). Konsumen masih mengkhawatirkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam menggunakan konsep ini.
"Kurang dari satu persen bangunan di Indonesia yang menerapkan konstruksi berkelanjutan," kata Alex Buchi, Manajer PT Holcim Indonesia Tbk. untuk konstruksi berkelanjutan di Jakarta, (26/6).
Untuk mendukung konsep konstruksi berkelanjutan, Holcim membuat perlombaan konstruksi bangunan tingkat global dengan nama Holcim Award.
Konstruksi berkelanjutan merupakan prinsip pembangunan yang berkelanjutan yang diterapkan mulai dari pemanfaatan bahan baku, perencanaan, infrastruktur dan pengelolaan limbah. Konstruksi berkelanjutan menghasilkan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi.
Konstruksi berkelanjutan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan merupakan proses memelihara keseimbangan kehidupan, secara ekologis, sosial dan ekonomis.
Menurut Alex, konsep konstruksi berkelanjutan menyebabkan naiknya biaya 10-15 persen. Namun, manfaat yang dirasakan menjadi besar. "Biaya untuk air conditioner menjadi tak ada," ujar Alex. Selain itu, konsep ini hemat energi yang akan mampu mengurangi penggunaan listrik.
Yuliawati





