Anak Usaha Semen Gresik Terancam Krisis Bahan Baku
Kamis, 28 Juni 2007 | 06:12 WIB
TEMPO Interaktif, Padang:PT Semen Padang, unit usaha PT Semen Gresik Tbk., meminta tambahan lahan seluas 249 hektare untuk dijadikan areal bahan baku semen. Lahan yang terletak dekat pabrik semen tertua di Indonesia tersebut saat ini adalah areal hutan lindung.
Direktur Utama Semen Padang Endang Irzal mengatakan izin untuk melakukan alih fungsi lahan tersebut sangat diperlukan perseroan cadangan bahan baku untuk kapur sebagai campuran pembuatan semen.
"Cadangan itu sangat penting, kalau tidak 20 tahun lagi pabrik bisa tutup, karena kehabisan bahan baku," ujarnya di Padang Selasa, (26/7).
Apalagi, Endang Irzal melanjutkan, perseroan berencana telah berencana berencana menambah pabrik baru, yang membutuhkan deposit bahan baku yang minimal yang aman selama 30 tahun.
Dia mengungkapkan, sebelumnya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan PT Semen Padang telah mengajukan kepada Menteri Kehutanan pengalihan fungsi lahan tersebut. Namun, hingga saat ini belum keluar keputusan tentang itu.
Menurut Endang Irzal, pengalihan fungsi lahan itu memungkinkan, jika mengacu kepada Undang-Undang 41/1999 tentang Kehutanan.
Kemarin, Endang Irzal bersama dengan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Boediono guna meminta agar pengalihan izin itu segera dilakukan. Gamawan, kata dia, juga sudah mengirimkan surat kepada Menteri Kehutanan Malam S. Kaban.
Analis PT Danasakti Securities Arief Budi Satria menilai penambahan areal memang sangat dibutuhkan Semen Padang. Hambatan soal izin penggunaan hutan lindung ini, menurut dia, harus mendapat prioritas untuk diselesaikan.
"Sebab penambahan kapasitas produksi hanya bisa dilakukan bila areal tambang bahan mentah diperluas," katanya. Kendati begitu, dia menilai Semen Padang akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan izin tersebut. "Karena bisa saja persoalan ini bermuatan politis," katanya. .
Sementara itu, saham Semen Gresik pada transaksi kemarin di lantai Bursa Efek Jakarta mengalami kenaikan 0,62 persen (Rp 300) menjadi Rp 48 ribu per saham di tengah jatuhnya saham unggulan berkapitalisasi besar.
Arief menilai naiknya saham berkode SMGR ini sebagai antisipasi investor atas keputusan stock split (pemecahan nilai saham) dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) besok. "Kenaikan saham emiten ini sudah terbatas dan akan konsolidasi bila hasil RUPS sesuai ekspektasi pasar," katanya.
FEBRIANTI I MUCHTAR WIJAYA/PDAT




Komentar Anda :