Intermediasi Perbankan Dinilai Masih lemah
Senin, 02 Juli 2007 | 19:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia (BI) mengaku khawatir dengan pertumbuhan kredit perbankan yang belum sesuai harapan pada Mei lalu. Padahal BI sudah konsisten memangkas suku bunga acuan (BI rate) dalam satu tahun terakhir ini.
Menurut Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abudullah, informasi yang asimetris antara perbankan dan sektor riil ditengarai menjadi salah satu penyebabnya. Ini menyebabkan intermediasi perbankan dinilai masih lemah.
"Pertumbuhan kredit perbankan di bulan Mei agak menggganggu pikiran karena meskipun suku bunga turun, kredit juga tak begitu naik bahkan ada beberapa bank yang kreditnya turun. Ini jadi perhatian kami bersama," kata Burhanuddin di Jakarta.
Padahal, pada bulan April 2007, kredit sempat melesat naik Rp 12,4 triliun secara nominal. Lebih tinggi dari jumlah pada triwulan pertama 2007 yang mencapai Rp 10,1 triliun. Tahun ini BI mematok target pertumbuhan kredit sebesar 18 persen. Perbankan nasional sendiri menargetkan rencana kredit sebesar 22%-23% pada 2007 ini.
Salah satu langkah BI mengantisipasi kesenjangan informasi itu adalah dengan meluncurkan program kerja Data Informasi Bisnis Indonesia (DIBI). Dengan program tersebut, diharapkan kebutuhan informasi kalangan perbankan dan pelaku ekonomi, khususnya UMKM, akan terjawab. Distribusi informasi kepada publik juga akan dilaksanakan dengan peresmian visitor center.
"Ini dilakukan untuk mencapai target dari penyaluran kredit tahun ini," kata Burhanuddin.
Di samping meluncurkan DIBI dan visitor center, BI juga menggulirkan dua program kerja lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor UMKM. Pertama, adalah program revitalisasi dan reorientasi kantor Bank Indonesia di daerah. Dengan program itu, KBI di seluruh negeri diarahkan untuk menjadi mitra strategis Pemerintah daerah dan pelaku ekonomi daerah, guna memperkuat perekonomian daerah bersangkutan.
Penguatan ekonomi daerah juga dilakukan melalui program pilot project klaster UMKM dan Tim Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TFPPED). Tim ini dibentuk di delapan KBI, yaitu Bandung, Medan, Manado, Cirebon, Pontianak, Jambi, Kupang, dan Purwokerto. Tujuannya untuk membantu mediasi antara perbankan dan pelaku usaha guna memperlancar penyaluran kredit.
Anton Aprianto





