RaiLing Dekati Jasa Marga dan Wijaya Karya
Kamis, 05 Juli 2007 | 00:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT RaiLink, investor proyek kereta api bandar udara, menggandeng PT Jasa Marga dan PT Wijaya Karya untuk menggarap proyek senilai Rp 1,5 triliun itu. Nota kesepahaman kerja sama diteken kemarin di Jakarta.
Direktur Utama RaiLink Masjraul Hidayat mengatakan, perusahaannya pihaknya bersama kedua mitra bisnis tadi sepakat untuk melaksanakan studi kelayakan lebih dahulu sebelum menentukan kerja sama selanjutnya. “Studi kelayakan ditargetkan selesai Agustus nanti,” katanya kemarin ketika dihubungi setelah penandatanganan.
Menurut Masjraul, kerja sama akan mengarah pada penyertaaan modal. Tapi, “Kami lihat dulu layak tidak.” Wijaya Karya, kata dia, dinilai cukup berpengalaman menggarap proyek-proyek kereta di Indonesia. Sedangkan kongsi dengan Jasa Marga terkait dengan penggunaan lahan di samping jalan tol.
Ia berharap kerja sama itu akan memperlancar proyek. Kereta bandara ditargetkan beroperasi pada 2009. ”Semoga tak ada kendala-kendala lagi.”
Sekretaris Perusahaan Jasa Marga, Okke Marlina, membenarkan ada ajakan kerja sama dari RaiLink. “Karena jalur dialihkan, lahan Jasa Marga akan digunakan.” Ia juga mengatakan pembicaraan belum menyinggung soal penyertaan modal.
Sebagian jalur kereta bandara dari Manggarai sampai Bandara Soekarno-Hatta akan dialihkan karena pembebasan lahan berlarut-larut. Jalur semula Stasiun Duri-Kalideres-bandara menjadi Stasiun Duri-Muara Angke-bandara.
Adapun jalur Stasiun Manggarai-Stasiun Duri tetap. Panjang lintasan jalur baru 27 kilometer, sedangkan sebelumnya 31 kilometer.
Pada April lalu, Menteri Perhubungan kala itu, Hatta Rajasa, mengancam mengambilalih proyek itu jika tahun ini tak ada kemajuan. Menurut dia, proyek kereta bandara untuk mengejar target melayani 1,5 juta penumpang kereta harian di Jakarta dan sekitarnya pada 2009.
Kereta bandara ditargetkan mengangkut 9 juta penumpang per tahun atau 30 persen jumlah penumpang pesawat di Soekarno-Hatta. RaiLink, perusahaan patungan PT Kereta Api (60 persen) dan PT Angkasa Pura II (40 persen), berdiri September 2006.
Harun Mahbub





