Krakatau Steel Diminta Pasok Bijih Besi
Kamis, 05 Juli 2007 | 09:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Wakil Presiden Jusuf Kalla menginstruksikan agar masalah ketidakpastian suplai bahan baku bagi pabrik pengolahan bijih besi Krakatau Steel di Kalimantan Selatan segera diselesaikan.
"Wapres minta satu bulan (sudah ada kepastian)," kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian, Anshari Bukhari, kepada wartawan usai rapat pembangunan industri baja di Kalimantan Selatan di Kantor Wapres, Rabu.
Anshari menjelaskan PT Krakatau Steel telah merampungkan persiapan teknis dan teknologi bagi pabrik pengolahan bijih besi menjadi sponge iron di Kalsel. Namun, kata dia, untuk memulai pembangunan pabrik masih ada kendala kepastian adanya bahan baku bagi pabrik.
Anshari mengatakan, ketidakpastian pasokan bahan baku tersebut muncul karena pada dasarnya bahan baku sudah dimiliki para kuasa pertambangan yang izinnya diterbitkan oleh Bupati.
Krakatau Steel sendiri, kata dia, siap membangun pabrik di Kalsel asalkan ada jaminan bahwa bahan baku yang ada bisa dimanfaatkan oleh mereka.
Wapres Kalla, dia melanjutkan, meminta agar instansi terkait menggunakan ketentuan dalam Undang-undang tentang Mineral dan Pertambangan, yang menyebutkan seluruh bahan pertambangan tidak boleh diekspor dalam bentuk mentah dan harus diolah di dalam negeri. "Diharapkan dengan adanya ketentuan ini segera diberi kepastian kepada Krakatau Steel untuk mendapat bahan baku," kata Anshari.
Anshari menambahkan, ada beberapa daerah potensial pemasok bahan baku yang dimiliki Kuasa Pertambangan. Kemungkinan besar, kata dia, Wapres akan meminta kuasa pertambangan bijih besi yang berada di wilayah hutan lindung untuk diberikan kepada Krakatau Steel.
Menurut dia, pembangunan pabrik pengolahan bijih besi akan dilakukan dalam waktu dua tahun dan diperkirakan selesai paling lambat pada pertengahan 2009. Investasi untuk pembangunan, kata dia, sebesar Rp 560 triliun yang akan dipenuhi sendiri oleh Krakatau Steel dari pinjaman Bank Mandiri.
Anshari mengatakan, dalam rapat dengan Wapres, Krakatau Steel melaporkan bahwa Bank Mandiri sudah siap untuk memberikan pembiayaan pembangunan pabrik.
Rencananya, pabrik pengolahan milik Krakatau Steel akan memiliki kapasitas produksi sebanyak 300 ribu ton bijih besi. Hasil produksi akan ditujukan untuk pemenuhan bahan baku sponge iron pabrik baja Krakatau Steel di Cilegon, Banten, yang selama ini mengimpor kebutuhan bahan bakunya yang mencapai 1,6 juta ton bijih besi.
Anshari mengatakan, berdasarkan perhitungan pemerintah terdapat potensi produksi 2 juta ton per tahun di Kalimantan Selatan. Sementara pabrik Krakatau Steel baru memanfaatkan sebanyak 300 ribu ton. Melihat potensi tersebut, lanjutnya, Kalla menyatakan pemerintah membuka peluang seluasnya kepada investor dalam dan luar negeri untuk mengembangkan pabrik di Kalsel.
Anshari menuturkan, sejauh ini yang sudah menyatakan tertarik adalah PT Esar dari India. Departemen Perindustrian, kata dia, sudah memfasilitasi penjajakan yang dilakukan perusahaan tersebut.
OKTAMANDJAYA WIGUNA





