Warga Eropa Dilarang Naik Pesawat Indonesia, Pelaku Industri Yogyakarta Resah

Kamis, 05 Juli 2007 | 12:59 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Pelaku industri pariwisata di Yogyakarta resah dengan adanya larangan menggunakan maskapai Indonesia. Apalagi, dunia pariwisata di Yogyakarta sampai saat ini belum pulih akibat terjadinya gempa bumi setahun lalu. Jika larangan itu betul diberlakukan, dipastikan dunia pariwisata di Yogyakarta bakal terpuruk lagi.

"Sampai saat ini memang belum ada pembatalan perjalanan kunjungan wisatawan, khususnya dari Eropa. Itu bisa jadi karena peringatan itu baru diumumkan," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Yogyakarta, M.A. Desky kepada Tempo.

Namun, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam satu atau dua minggu ke depan. "Kami tidak tahu apakah seminggu atau dua minggu ke depan tetap tidak ada pembatalan," tambahnya.

Menurut Desky, jika sampai larangan Uni Eropa itu ditaati oleh masyarakat Eropa akan banyak perusahaan anggota Asita yang gulung tikar karena penghasilan utama perusahaan-perusahaan ini berasal dari kunjungan turis.

Dia menjelaskan, sebelum krisis ekonomi, kunjungan turis asing ke Yogyakarta mencapai 400 ribu per tahun. Namun setelah krisis, angka itu anjlok hingga rata-rata 50 ribu turis per tahun saja yang masuk ke Yogyakarta. Sebenarnya jumlah kunjungan wisatawan asing itu sempat naik lagi pada 2005 menjadi 120 ribu orang. Tapi setelah terjadi gempa tahun lalu, anjlok lagi menjadi sekitar 65 ribu orang.

"Tahun ini, kami sebenarnya optimistis bisa mengembalikan kunjungan turis ke Yogyakarta ke angka 120 ribu karena sejak Januari lalu terlihat tren yang positif. Tapi dengan adanya larangan itu, kami menjadi ragu. Kami berharap pemerintah mau membantu masalah ini," kata Desky.

Syaiful Amin






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: