Pelaku Pariwisata di Solo Belum Rasakan Dampak Larangan Uni Eropa

Kamis, 05 Juli 2007 | 15:51 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Pelaku pariwisata di Kota Solo mengaku belum merasakan dampak dari pelarangan Komisi Eropa terhadap warganya untuk tidak menggunakan maskapai Indonesia.

Menurut Public Relations Hotel Novotel Solo, Mirza Ariani, kunjungan turis asing biasanya terjadi pada September-Oktober.

"Sekarang ini masa liburan turis domestik. Liburan untuk turis asing dari Eropa biasanya pada September," kata Mirza.

Apalagi, dia menambahkan, Solo bukan tujuan langsung wisatawan asal Eropa, tetapi hanya sebagai tempat transit dari daerah lain terutama Yogyakarta. Wisatawan asing yang banyak menginap di hotelnya biasanya berasal dari negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia karena dari dua negara itu ada penerbangan langsung ke Solo.

Pengelola agen perjalan wisata Mandira, Suseno, juga mengakui sampai saat ini belum ada pemesanan perjalanan wisata dari Eropa.

Suseno menambahkan, turis asing yang datang ke Solo sebagian besar dari Singapura dan Malaysia. Dari dua negara itu belum ada pembatalan kedatangan. Sedangkan turis dari negara-negara Eropa hingga kini belum ada pemesanan.

"Mungkin baru ketahuan dampaknya nanti pada September saat negara di Eropa mulai memasuki masa liburan," kata mantan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Solo ini.

Imron Rosyid






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: