Bank Pembangunan Dibentuk Akhir Tahun Ini
Selasa, 17 Juli 2007 | 03:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mentargetkan pembentukan bank pembangunan akan selesai pada akhir tahun ini.
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil mengatakan masalah ini sedang dibahas dengan Departemen Keuangan dan Bank Indonesia.
Dia juga menegaskan, bahwa bank yang akan mendanai proyek-proyek pembangunan itu adalah bank baru. Pernyataan tersebut sekaligus menjawab keraguan kalangan perbankan bahwa pemerintah akan memanfaatkan bank yang sudah ada sebagai bank pembangunan.
Dengan adanya bank pembangunan maka tekanan terhadap bank komersial akan berkurang. "Bank komersial tidak lagi dituntut untuk membiayai proyek jangka panjang," kata Sofyan kepada Tempo di rumah dinasnya, di Jakarta akhir pekan lalu.
Bank pembangunan rencananya akan mendanai proyek-proyek jangka panjang seperti infrastruktur, kelistrikan dan proyek lainnya. Sofyan menjelaskan, proyek jangka panjang sulit didanai oleh bank komersial. Sebab rata-rata bank komersial memiliki sumber pendanaan jangka pendek. Sedangkan proyek yang harus didanai adalah proyek-proyek jangka panjang.
Pada tahap awal, Sofyan memperkirakan dana yang dibutuhkan untuk mendanai bank baru ini mencapai Rp 5 triliun.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono setuju dengan rencana tersebut. "Memang dibutuhkan bank-bank yang sifatnya khusus," kata Sigit.
Namun dia mengingatkan agar pemerintah mengkaji lebih dahulu rencana pembentukan bank tersebut. Sebab tanpa diimbangi kajian yang matang, akan menimbulkan kebingungan di pasar.
Dengan dibentuknya bank khusus yang berfungsi mendanai proyek jangka panjang ini, akan mengurangi risiko yang kemungkinan dihadapi bank. Risiko tersebut timbul lantaran ada jarak antara sumber pendanaan dan pembiayaan.
"Sumber dana jangka pendek untuk kredit jangka panjang bisa menimbulkan risiko. Maka diperlukan bank yang memiliki sumber pendanaan jangka panjang," kata Sigit.
DEWI RINA I SURYANI IKA SARI





