Korea Selatan Peringatkan Garuda
Jum'at, 20 Juli 2007 | 02:31 WIB
TEMPO Interaktif, Seoul: Korea Selatan meminta tujuh maskapai penerbangan asing memperbaiki standar keselamatan. PT Garuda Indonesia masuk dalam daftar maskapai yang ditegur itu.
Enam maskapai lainnya, Progress Multi Transportation Air, Royal Khmer Airlines (Kamboja), Iran Air (Iran), Sakhalinsk Airlines, Vladivostok Air, dan Dalavia Far East Airways (Rusia).
Permintaan itu muncul setelah 13 warga negara itu, dari total 22 korban, tewas dalam kecelakaan pesawat milik maskapai Progress Multi Transportation Air bulan lalu.
telah memerintahkan pemeriksaan khusus keselamatan penerbangan terhadap tujuh maskapai tadi. Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil yang memimpin mengecekan maskapai-maskapai itu.
Tim pemeriksa menemukan 37 kasus yang menyalahi standar keselamatan. “Mereka diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah itu,” kata juru bicara kementerian dalam pernyataan persnya kemarin waktu setempat seperti dikutip dari kantor berita AFP.
Sebelumnya, Komisi Eropa melarang pesawat Indonesia, dan sejumlah maskapai dari beberapa negara, terbang ke Uni Eropa sejak 6 Juli 2007. Larangan itu berdasarkan sejumlah kecelakaan pesawat di Indonesia dalam setahun terakhir.
Keputusan itu akan direvisi dalam tiga bulan. Pemerintah sedang gencar melobi Komisi Eropa agar segera mencabut pelarangan itu. Keputusan Eropa membuat otoritas penerbangan sipil Arab Saudi meminta mengaudit penerbangan nasional.
Direktur Operasi Garuda Ari Sapari menyatakan tak mencemaskan peringatan Korea Selatan. Garuda dan Korea Selatan mempunyai hubungan baik dalam bidang operasi, pemasaran, serta pelatihan.
Dalam sepekan, tiga kali penerbangan Jakarta-Seoul. “Kami belum terima surat peringatan itu,” katanya. Jika surat peringatan itu datang, Garuda akan menjelaskan semuanya kepada pemimpin otoritas penerbangan sipil negara itu.
Ari pun optimistis Korea tak akan mencekal Garuda karena pesawat Garuda diaudit tiap tahun oleh Korea. Ia menilai peringatan semacam itu wajar karena kewajiban otoritas penerbangan untuk melindungi warga negaranya.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan, Bambang S. Ervan, juga mengatakan instansinya belum menerima surat dari Seoul. “Saya cek ke Garuda dulu,” ujarnya.
Anggota Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat Nusyirwan Soejono menyatakan Garuda tak perlu khawatir dengan peringatan Korea Selatan. Garuda dinilainya cukup bagus dalam pengawasan keselamatan penerbangan.
Menurut dia, sulit dihindari dugaan bahwa peringatan itu dipengaruhi oleh larangan terbang dari Eropa. Nusyirwan berpendapat, peringatan Korea Selatan akibat pemerintah tak tegas menindak pelanggar ketentuan keselamatan penerbangan.
"Harusnya sejak menteri sebelumnya, diambil tindakan tegas, kalau perlu (izin) dicabut" ujar politikus PDI Perjuangan itu kemarin. Dunia internasional membutuhkan bukti konkret. Jika penerbangan terpuruk, akan mempengaruhi sektor pariwisata.
Menurut Kementerian Transportasi Korea Selatan, temuan akan diteruskan kepada pejabat resmi di bidang keselamatan penerbangan masing-masing negara agar maskapai-maskapai itu memperkuat prosedur keselamatan penerbangan.
Progress Multi Transportation Air diketahui melakukan kecurangan karena pemimpin awak yang mengecek 26 kali perawatan pesawat dalam tiga bulan terakhir. Maskapai itu juga kedapatan mengoperasikan pesawat tanpa memiliki persediaan suku cadang.
Progress Multi memiliki enam penerbangan antara Korea Selatan dan kuil Angkor, Siem Reap, Kamboja, dalam sepekan.
Sakhalinsk Airlines kedapatan menggunakan suku cadang yang tak standar, sedangkan Royal Khmer tak memperbarui layanan pemandu rute.
Kementerian Transportasi awal tahun ini telah mengumumkan rencana meluncurkan daftar pengawasan keselamatan penerbangan berdaarkan tingkat kecelakaan tertinggi, seperti yang dilakukan oleh Uni Eropa. Warga Korea Selatan memang gemar berlibur ke luar negeri setelah nilai tukar Won menguat.
Rieka Rahadia | Harun Mahbub | AFP





