Rupiah Diprediksi Masih Akan Tertekan
Jum'at, 20 Juli 2007 | 07:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kondisi rupiah pada hari ini diperkirakan masih tertekan. Analis Currency Management Group, Farial Anwar mengatakan rupiah berpotensi melemah di Rp 9.125 dengan batas bawah Rp 9.050. "Itu trading rage-nya," kata Farial kepada Tempo Jumat (20/7).
Dia mengatakan rupiah melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Padahal saat ini mata uang dolar justru melemah terhadap semua mata uang. Dia mencontohkan mata uang Euro yang saat ini bernilai 1,38 terhadap dolar. "Hanya rupiah yang melemah," ujarnya. Dalam satu minggu, rupiah bergerak di kisaran Rp 9.040 sampai Rp 9.090.
Sementara index saham menembus level tertinggi dalam sejarah yaitu 2.333. Menurut Farial, jika para pembeli banyak dari asing, seharusnya dolar melemah. Namun, lanjutnya, anehnya justru rupiah yang melemah. "Ini situasi yang aneh," ujar Farial.
Melemahnya rupiah, menurut Farial, karena bank sentral yang tidak mendukung penguatan rupiah melalui berbagai pernyataan-pernyataannya. Otomatis, pasar terpengaruh. Orang cenderung tidak percaya jika rupiah bisa lari di bawah Rp 8.000.
Farial menilai pemerintah terlalu membela eksportir. Harga mineral. batu bara, Crude Palm Oil (CPO) dan timah saat ini memang sedang melambung. Para eksportir tengah mengambil untung dari melemahnya nilai mata tukar rupiah. "Dana dari eksportir tidak banyak yang masuk ke Indonesia. Justru malah lari ke Singapura dan negara-negara lain," katanya.
Untuk itu Farial meminta agar pemerintah tidak hanya memikirkan eksportir dalam memperkuat mata uang rupiah, namun juga mempertimbangkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Apalagi dengan kondisi harga minyak mentah dunia yang cenderung naik. Alasannya, harga minyak saat ini telah mencapai kisaran US$ 70 per barel. Kalau harga minyak naik, otomatis subsidi pemerintah untuk BBM juga akan naik. Padahal kebutuhan subsidi BBM dihitung dengan kurs dolar.
Semakin besar subsidi, semakin besar kebutuhan akan mata uang dolar. Farial mencontohkan, membeli minyak dengan kurs Rp 8.100 akan berbeda dengan Rp 9.100. "Jumlah yang kita keluarkan lebih mahal untuk membeli barang yang sama. Karena nilai tukar rupiah melemah sementara permintaan minyak saat ini naik," tuturnya.
Nieke Indrietta





