Tingkat Kerawanan Krisis Kali Ini Lebih Rendah
Senin, 23 Juli 2007 | 04:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah kalangan menilai krisis ekonomi jilid kedua bukan mustahil kembali menerjang kawasan Asia, termasuk Indonesia. Namun, dibanding 10 tahun lalu—2 Juli 1997-- saat krisis keuangan menerjang Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia, tingkat kerawanan krisis kali ini jauh lebih rendah.
Menurut Perwakilan Senior IMF di Indonesia Stephen Schwartz, dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia dan negara-negara lain di kawasan Asia telah belajar dari pengalaman pahit dan menerapkan berbagai pembenahan yang berujung pada kondisi ekonomi yang menjanjikan dengan tingkat kerawanan yang rendah. “Khusus Indonesia, kerangka ekonomi makro kini berada dalam kondisi lebih kukuh,” katanya.
Pengelolaan fiskal yang baik, kata dia, juga telah membuat rasio utang Indoensia terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun menjadi di bawah 40 persen dari sebelumnya hampir 100 persen.
Seperti bank-bank sentral lain di kawasan, menurut Schwartz, Bank Indonesia menerapkan rezim nilai tukar yang luwes dan kerangka penargetan inflasi yang eksplisit. Alhasil, bank-bank sentral lebih mudah mengelola gejolak aliran modal, kendati itu tetap merupakan tantangan dan ancaman yang harus diwaspadai baik di Indonesia, maupun negara berkembang (emerging markets) lainnya.
Vice Chairman UBS Investment Bank Lord Brittan mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia jauh membaik dibanding 10 tahun lalu. Itu terlihat dari menurunnya tingkat suku bunga, angka kemiskinan, perbaikan sektor perbankan, serta keluarnya kebijakan pemerintah yang kondusif. “Tingkat ketahanannya lebih kuat, sehingga potensi terulangnya kembali krisis sangat tidak mungkin," ujarnya.
Menurut pengamat pasar modal Goei Siauw Hong, aliran modal panas (hot money) yang banyak masuk ke Indonesia akhir-akhir ini perlu diwaspadai. Seperti 1997 lalu, dana-dana tersebut bisa saja tiba-tiba ditarik keluar . “Bila ini terjadi, guncangan ekonomi bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Namun, kata Hong, “kerawanan krisis kali relatif kecil kecil karena perbankan sekarang jauh lebih sehat dan utang korporat yang jauh lebih kecil.”
Seandainya ada potensi krisis, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah yakin sumbernya bukan datang dari perbankan nasional seperti dulu. Sebab daya tahan perbankan domestik kini tidak perlu diragukan. Dari total 130 bank, katanya, “Paling cuma tiga bank yang akan kesulitan bila ada krisis lagi.”
l Tim Tempo





