Bantuan Untuk Keluarga Miskin Dinilai Tidak Efektif
Selasa, 24 Juli 2007 | 07:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bantuan pemerintah untuk keluarga tidak mampu dinilai mengada-ada. Bantuan bernama Program Keluarga Harapan itu dipastikan bakal tidak efektif seperti program bantuan langsung sebelumnya.
"Itu program bantuan setengah hati, tidak akan bisa mencakup semua orang miskin," kata Direktur Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (INDEF) Iman Sugema kepada Tempo.
Sebelumnya, pemerintah meluncurkan program bantuan untuk keluarga tidak mampu sebesar Rp 1 triliun. Program ini adalah kelanjutan dari subsidi langsung tunai. Rencananya bantuan akan dibagikan kepada keluarga miskin dengan persyaratan yang telah ditentukan.
Untuk tahun ini, pemerintah akan membagikan bantuan dalam beberapa skenario. Skenario itu terdiri dari bantuan langsung tetap, yang rutin diberikan setiap tiga bulan sebesar Rp 200 ribu.
Kemudian skenario lainnya yakni bantuan khusus berdasarkan kondisi masing-masing keluarga. Seperti untuk biaya pendidikan sebesar Rp 400-800 ribu, biaya kesehatan balita Rp 800 ribu, dan ibu hamil serta menyusui Rp 400 ribu.
Menurut Iman, skenario-skenario itu justru membuat program ini sulit dijangkau oleh keluarga miskin. Sebabnya antara lain proses pendataan yang rumit. "Ini akan semakin problematik dan menimbulkan kecemburuan sosial," katanya.
Pemerintah juga malah menjebak diri dengan variabel-variabel yang tidak dapat dijangkau. Dia mencontohkan, bantuan untuk ibu hamil dan menyusui. Bantuan itu akan memicu semakin banyak orang miskin. "Orang-orang miskin semakin bertambah karena punya anak yang disubsidi pemerintah," katanya.
Dia menyarankan, bantuan untuk keluarga miskin dihapuskan dan diganti dengan program padat karya. "Kan bisa menciptakan lapangan kerja dan membantu orang miskin juga," katanya.
SURYANI IKA SARI





