Perangkat Telekomunikasi dan Informatika Lokal Tertinggal

Selasa, 31 Juli 2007 | 02:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Tingginya ketergantungan terhadap perangkat telekomunikasi dan informatika impor karena produk lokal belum bisa memenuhi kualitas yang dibutuhkan.

Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia Johnny Swandi Sjam menuturkan industri dalam negeri baru mampu menyediakan menara (tower) dan beberapa aplikasi peranti lunak (software). Sekarang pun penyediaan pembuatan menara dinilai semakin mahal.

Dua tahun lalu, menurut dia, volume impor mencapai 70 persen dari total belanja modal. "Tapi sekarang diperkirakan sudah turun jadi 60 persen karena industri elektronika sudah mulai bergerak," ujar dia kepada Tempo Senin (30/7).

Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar sebelumnya mengungkapkan pengeluaran perusahaan untuk pendukung infrastruktur telekomunikasi dari luar negeri (impor) masih mencapai 90 persen. Secara nasional, nilai belanja impor perusahaan telekomunikasi US$ 2,5-3 miliar. Belanja setara dengan Rp 27 triliun itu belum termasuk untuk telepon seluler atau handset, yakni sekitar Rp 10 triliun.

Menurut Johnny, tingginya ketergantungan terhadap produk impor itu lantaran industri lokal belum berkembang. Faktor ini, kata dia, dipengaruhi oleh iklim investasi yang belum kondusif, sehingga investor belum tertarik membangun pabrik. "Kalau kita sudah bisa memproduksi sendiri, tentu nggak perlu impor lagi," tutur Direktur Utama PT Indosat Tbk. ini.

Dia menambahkan, perangkat yang masih diimpor antara lain perangkat jaringan untuk radio, base transceiver station, switching, perangkat terminal, dan handset.

Hal ini pun diakui PT Huawei Technologies Investment, yang mendatangkan perangkat telekomunikasi dari Cina. Menurut juru bicara Seruni Rhea, sebagian produk infrastruktur di Indonesia didatangkan dari Cina melalui perusahaannya.

Perangkat infrastruktur yang didatangkan ke Indonesia meliputi wireless network serta network product line, yang meliputi fixed line network, optical network, datacom network, application and software, dan terminal. "Indonesia masih membutuhkan hampir semua produk tersebut," ujar Rhea.

l Dian Yuliastuti






Komentar Anda

Kirim