Pertamina Tarik 11 Persen Kompor Gas Program Konversi

Selasa, 31 Juli 2007 | 05:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina telah menarik sekitar 11 persen kompos gas yang dibagikan dalam program konversi minyak tanah ke gas dalam tabung (elpiji) secara gratis karena tidak sesuai dengan standar. “Ada banyak kompor yang cacat dan ketebalannya tidak sesuai standar,” kata Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal sesuai bertemu dengan Wakil Presiden di Jakarta kemarin.

Pertamina, kata dia, tidak akan menarik tabung gas yang sudah dibagikan karena sudah sesuai standar.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Industri Logam Departemen Perindustrian Anshari Bukhari mengakui tujuh sampai 11 persen kompor gas yang sudah disalurkan ke industri kecil dan menengah ditarik kembali karena tidak memenuhi kualitas yang telah ditentukan. Atas dasar itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar pengawasan terhadap kualitas kompor gas program konversi minyak tanah ke gas ditingkatkan. “Wakil Presiden meminta ini (kualitas kompor) harus dipantau dengan sebaik-baiknya,” kata dia.

Dia menjelaskan, saat ini ada 20 persusahaan memproduksi tabung gas dengan kapasitas produksi sebanyak 24 juta unit tabung. Adapun untuk kompor gas, ada 32 perusahaan dengan kapasitas produksi 36 juta unit kompor. Pemerintah akan menunjuk lembaga independen untuk mengawasi perusahaan yang akan memproduksi kompor gas bagi program konversi tersebut.

Konversi minyak tanah ke elpiji merupakan program pemerintah pusat dalam rangka menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menekan subsidi yang mencapai Rp 60 triliun per tahun. Sebagai pelaksana program, Pertamina telah mengurangi pasokan minyak tanah di lapangan. Sebagai gantinya masyarakat mendapatkan kompor dan elpiji seberat tiga kilogram secara gratis. Pada tahap awal, program telah dilakukan di Jakarta, Tangerang, dan Depok. Namun, program ini tak berjalan mulus. Sebagian warga tak siap beralih ke elpiji dan tetap menggunakan minyak tanah.

Menurut Anshari, sampai akhir Juli 2007, sebanyak 43.454 kepala keluarga sudah menerima tabung dan kompor secara gratis. Adapun Industri kecil dan menengah yang sudah menerima tabung dan kompor gas sebanyak 32.716 industri.

Faisal menambahkan, Departemen Perindustrian sudah berkomitmen memacu produksi kompor gas dalam negeri berikut pengawasan kualitasnya. " Sehingga bila program konversi berhasil sesuai rencana, pada tahun ini 181 ribu ton elpiji bisa menggantikan 428 ribu kiloliter minyak tanah.

Menurut Faisal, sampai akhir Juli 2007, sebanyak 2.600 ton elpiji sudah bisa menggantikan 20 ribu kiloliter minyak tanah. Dengan hasil itu, dari sisi anggaran pemerintah bisa menghemat subsidi minyak tanah. Untuk setiap liter minyak tanah pemerintah memberi subsidi Rp 3000-4000. “Jadi kalau dilakukan 20 ribu kilo liter minyak tanah penghematannya sudah mencapai Rp 60 sampai 80 miliar," ujarnya.

Pemerintah, kata Achmad, menargetkan sampai 2009 sebanyak 40 juta tabung dan kompor gas sudah bisa menggantikan minyak tanah di Jawa Bali.

Achmad juga mengatakan, pemerintah saat ini lebih memperlunak syarat distribusi tabung dan kompor gas kepada masyarakat. Sebelumnya, syarat untuk menerima tabung dan kompor gas, warga harus memberikan kartu keluarga. “Saat ini warga pendatang bisa mendapatkan tabung dan kompor gas asal ada berita acara domisili dari pihak RT/RW setempat.”

Anton Aprianto






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: