Bank Sentral Diminta Kendalikan Rupiah
Kamis, 02 Agustus 2007 | 11:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Analis pasar uang Farial Anwar mengingatkan Bank Indonesia segera mengambil langkah untuk mengendalikan nilai tukar rupiah yang terus terpuruk terhadap dolar Amerika.
Menurut dia, jika panic selling terus terjadi pada pasar saham, rupiah akan terus tertekan. "Besar kemungkinan, jika indeks hari ini terus melorot, rupiah akan terpuruk melewati Rp 9.300 per dolar AS," kata Farial ketika dihubungi Tempo, Kamis (2/8).
Dia menilai, jatuhnya rupiah pada perdagangan kemarin adalah wujud gagalnya bank sentral mengerem nilai tukar. Padahal, kata dia, cadangan devisa melebihi US$ 50 juta sudah cukup besar untuk bisa mengamankan posisi rupiah.
Apalagi, dia mengaku kecewa dengan sikap Bank Indonesia yang memberi kisaran nilai tukar pada posisi Rp 8500-9500 per dolar AS. "Pasar bisa percaya, bahwa Rp 9500 masih cukup aman. Itu tidak bagus," keluhnya.
Padahal, Farial mengingatkan, potensi kerugian investor atas exchange rate rupiah sudah jauh lebih tinggi dari negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, bahkan Thailand. Jika ini terjadi, dia khawatir, "Kepanikan akan memperburuk kondisi perekonomian."
Apalagi, tren harga minyak saat ini terus meningkat. Dengan nilai tukar yang cukup tinggi, dia menjelaskan, pemerintah harus mengeluarkan dana lebih besar untuk transaksi minyak.
Farial menduga, terpuruknya nilai tukar saat ini lebih didominasi pengaruh spekulan asing yang khawatir bakal merugi karena rupiah dan indeks terus terpuruk. Celakanya, "pelaku pasar dalam negeri selama ini selalu mengekor aksi asing."
AGOENG WIJAYA





