|
STT Dukung Kebijakan Derivatif Indosat
Kamis, 02 Agustus 2007 | 17:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Singapore Technologies Telemedia (STT) mendukung langkah manajemen PT Indosat Tbk. melakukan lindung nilai (hedging) utang-utangnya.
Pemegang 41,94 persen saham Indosat ini menilai kebijakan hedging penting untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi mata uang."Kami (STT) mendukung kebijakan itu," kata Kuan Kwee Jee, Senior Vice President Strategic Relations STT kepada Tempo di sela-sela acara makan siang di Samarra Restaurant, Kami (2/8).
Jika kebijakan hedging merugikan para pemegang saham, para pemegang saham publik Indosast bisa saja melakukan tuntutan class action. "Jika ini terjadi biayanya akan sangat besar dan penyelesaiannya rumit," kata dia.
Senior Vice President Corporate Planning Indosat Nicholas Tan mengatakan, fluktuasi mata uang, misalnya rupiah, bisa cukup tinggi. Untuk meminimalisir efeknya terhadap pembayaran utang dolar Indosat, manajemen mengamankannya dengan melakukan lindung nilai itu.
Isu lindung nilai terkait transaksi derivatif ini dilontarkan oleh anggota parlemen Dradjat Wibowo. Menurut Dradjat, praktek ini berhasil menambah biaya perusahaan. Akibatnya, laba yang dibukukan berkurang. Ini juga berdampak pada pajak yang dibayarkan.
Dalam rilisnya ke Bursa Efek Jakarta, manajemen Indosat mengatakan, kebijakan itu memang telah berlangsung sejak 2004 hingga 2006. Kebijakan ini telah dilaporkan dalam laporan keuangan dan diaudit oleh auditor internasional.
Pemerintah, selaku pemegang saham sekitar 14 persen saham Indosat, menyikapi kasus ini dengan mengatakan akan memeriksa kebenarannya.
Terkait pelaporan kasus persaingan tidak sehat oleh STT dan Singapore Dalam indeks itu, menurut dia, Telecommunication dalam pasar seluler di Tanah Air, Kwee Jee mengatakan saat ini sedang memasuki tahapan hearing di Komisi Pengawas Persaingan Usaha.
Namun menurut Kwee Jee, tidak terjadi pengaturan tarif meskipun STT menguasai Indosat dan Singtel memiliki 35 persen saham di Telkomsel. Ini terlihat dari pengukuran menggunakan indeks Herfindahl--Hirschman.
"Indeks ini menunjukkan ada persaingan (operator) yang aktif di pasar telekomunikasi di Indonesia," kata dia.
budiriza
INDEKS BERITA LAINNYA :
|