Bursa Regional Kembali Rontok

Selasa, 07 Agustus 2007 | 00:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indeks bursa saham kawasan Asia-Pasifik pada transaksi kemarin kembali ambruk akibat imbas negatif jatuhnya bursa Wall Street akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones Industrial pada transaksi Jumat (3 Agustus) ditutup anjlok 281,42 poin (2,09 persen) ke 13.181,91 terendah sejak 1 Mei 2007.

Penurunan tajam di bursa Wall Street ini kembali terjadi setelah petinggi Bear Stearns, perusahaan mortgage (pembiayaan perumahan) di Amerika Serikat mengatakan pasar kredit mereka saat ini berada pada situasi terburuk selama dua dekade. Dampaknya, harga saham Bear Strens langsung anjlok 6,0 persen dan membuat Dow Jones kembali tenggelam. Investor masih mengkhawatirkan masalah pasar kredit perumahan akan merambat ke sektor lainnya.

Selain itu, sentimen negatif lainnya muncul dari rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada Juli yang hanya tumbuh 92 ribu jiwa, atau titik terendah sejak Februari. Selain tingkat pengangguran yang meningkat 4,6 persen yang merupakan level tertinggi sejak Januari memberi indikasi akan tanda melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Akibatnya, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kembali rontok. Indeks Straits Times Singapura anjlok 3,70 persen menjadi 3.308,99. Diikuti Hang Seng Hong Kong jatuh 2,67 persen di 21.936,73. Bursa Australia jeblok 1,76 persen menjadi 5.949,50.

Taiwan ambruk 1,28 persen di 8.941,73. Kospi di Seoul (Korea Selatan) turun 1,16 persen ke 1.855,05 dan Nikkei-225 di Tokyo terpangkas 0,39 persen menjadi 16.914,46. Menurut analis, masalah yang muncul dari kredit perumahan Amerika Serikat telah membuat dana sekitar US$ 2,66 triliun keluar dari pasar saham Asia.

Jatuhnya bursa global dan regional menyeret indeks harga saham gabungan di bursa Efek Jakarta terus melorot di bawah level 2.200. Indeks saham Jakarta kemarin ditutup turun drastis 80,68 poin (3,55 persen) menjadi 2.189,11. Pada saat yang sama nilai tukar rupiah ditutup melemah 20 poin dari 9.275 menjadi 9.295 per dolar Amerika Serikat. Rupiah pada sesi pagi sempat terpuruk di Rp 9.355 per dolar.

Sekretaris Jenderal Group Valas Indonesia Panji Irawan mengatakan jatuhnya indeks saham dan obligasi memberi sentiment negatif bagi rupiah. “Asing melakukan aksi ambil untung di pasar saham dan obligasi dengan mengalihkan investasi mereka ke dalam dolar,” katanya.

Adapun, pengamat analis PT Trimegah Securities Tbk., Heldi Arifin menilai kejatuhan indeks dan rupiah selain faktor global juga akibat kekecewaan atas kemungkinan Bank Indonesia tidak menurunkan BI Rate. “Jatuhnya Dow Jones dan rupiah menambah sentiment negatif bagi kinerja bursa,” ujarnya.


I BLOOMBERG I MUCHTAR WIJAYA

TOPIK






Komentar Anda

Kirim