|
2011 Tidak Ada Lagi Minyak Tanah
Senin, 13 Agustus 2007 | 20:12 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor:Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan program konversi minyak tanah ke gas dipastikan bisa rampung 2011 di seluruh Indonesia. Artinya, pada 2011 tidak ada lagi minyak tanah yang digunakan untuk kebutuhan bahan bakar rumah tangga.
Menurut Kalla, meskipun program ini terlambat dibanding negara-negara lain seperti Kamboja, Laos, dan India, program dengan investasi awal senilai Rp 15 triliun ini diperkirakan akan mampu menekan subsidi minyak tanah dari
Rp 30 triliun pertahun menjadi Rp 8 triliun pertahun.
"Semua pihak diuntungkan, yang tidak untung cuma pengoplos minyak tanah," kata Kalla saat berkunjung ke pabrik tabung gas milik PT Hamasa Steel Centre dan Kompor Gas milik PT Wijaya Karya Intrade yang kedua-duanya berlokasi di Cileungsi, Bogor, Senin (13/8)
Masyarakat, Kata Kalla, diuntungkan karena dengan menggunakan gas dibanding minyak tanah mampu dihemat biaya Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu perbulan. Angka ini dihitung dari kebutuhan rata-rata minyak tanah rumah
tangga 20 liter perbulan yang mampu dikonversi oleh 2,5 tabung gas seberat 3 kg. "Perbandingannya kan bisa 1:2," kata Kalla.
Dari sisi pemerintah, ujar dia,program ini akan mampu menghemat subsidi Rp 22 triliun pertahunnya atau hampir senilai dengan keuntungan Pertamina rata-rata pertahunnya. "Dari sisi swasta, banyak perusahaan berkembang, baik yang baru maupun yang lama," kata Kalla.
Dalam kunjungannya ini, Kalla melihat pembuatan tabung dan kompor gas yang masing-masing diproduksi PT Hamasa Steel Centre dan PT Wika.
Dari segi kualitas tabung gas dan kompor gas, kata Kalla, dengan kualitas kontrol dan pengawasan yang ketat maka kecil kemungkinan hasil yang cacat.
Namun pemerintah melalui Departemen Perindustrian akan tetap mengawasi agar kompor yang sampai kemasyarakat dan kalangan industri benar-benar baik. "Sosialisasi juga akan dikembangkan supaya masyarakat benar-benar
mengetahui hal ini," ujar Kalla.
Masyarakat, kata Kalla, tidak perlu menyerahkan kompor minyak tanahya ke pemerintah jika sudah mendapat jatah tabung dan kompor gas. "Awalnya pemerintah juga akan menarik kompor minyak tanah, tetapi karena kalau sudah
gas biasa 99 persen rumah tangga meninggalkan minyak tanah jadi ya biarkan saja," kata dia.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan, pihaknya telah menetapkan spesifikasi dan standarisasi untuk produk kompor dan tabung gas program konversi ini. Untuk tabung, standarisi program sesuai standar SNI sudah
selesai. "Untuk kompor sedang finalisasi," kata dia.
PT Hamasa Steel Centre Sendiri mendapat kuota pembuatan tabung 2007 ini sebanyak 1,2 juta tabung. Sampai Juni sudah dikirim sebanyak 100 ribu tabung kepada Pertamina yang ditunjuk sebagai distributor oleh pemerintah
dalam program ini."Untuk kualitas kami cek tingkat kebocoran melalui tiga tahapan, jadi tidak mungkin ada tabung yang bocor setelah disalurkan," kata Kepala Pabrik Hamas Iin Rusminiwati.
Anton Aprianto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|