Penurunan Target Produksi Minyak Dinilai Merugikan
Selasa, 14 Agustus 2007 | 11:50 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Emir Moeis menilai, penurunan target produksi minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2007 menjadi 1 juta barel merugikan. Alasannya, harga minyak dunia saat ini sedang tinggi.
"Seharusnya pemerintah dapat meningkatkan lifting minyak bumi agar dapat memenuhi target yang ditentukan dalam asumsi anggaran," kata Emir dalam seminar Fiscal Policy and Energy Pricing di Jakarta, Selasa (14/8).
Emir menambahkan, dari hasil evaluasi atas realisasi lifting minyak bumi, menunjukkan bahwa target tersebut masih tidak terpenuhi. Dengan kata lain, masih di bawah 1 juta barel. Artinya, kata dia, momentum kenaikan harga minyak dunia pada kisaran US$ 70 per barel jadi terbuang akibat rendahnya kinerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang tidak mampu memastikan target lifting minyak terpenuhi.
"Lifting jangan turun, harus balik ke 1,250 juta barel," ujar Emir. "Kalau terus menurun, akan mempengaruhi anggaran."
APBN 2006 menunjukkan pajak penghasilan (PPh) dari sektor minyak dan gas (migas) hanya sebesar 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sedangkan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) migas 5,1 persen dari PDB dengan komposisi 3,9 persen dari minyak dan 1,2 persen dari gas.
Menurut Emier, ini menunjukkan kontradiksi. Di satu sisi, harga dan lifting minyak bumi menjadi salah satu tolak ukur penentu makro ekonomi. Di sisi lain, upaya pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan negara dari sektor migas masih tergolong lemah.
NIEKE INDRIETTA




Komentar Anda :